Selasa, 08 Januari 2019

The answer is on your hand

Seorang pemuda penasaran dengan kehebatan orang tua di kampung sebrang dalam berdebat dan menjawab setiap pertanyaan yang dialamatkan padanya. Dia sudah sangat terkenal, bahkan tidak jarang banyak pengunjung dari luar kota berdatangan sekedar mencari petuah bijak atau memberi pertanyaan dengan harapan mendapat jawaban yang pas. Pada suatu pagi saat kampung masih lengang pemuda itu mengetuk pintu orang tua itu. Belum genap 5 kali ketukan suara serak-serak berat datang dari dalam, "sebentar, saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah dulu". Mendengar jawaban itu, pemuda itu mau menunggu lalu duduk di kursi rotan di depan rumah dengan desain cukup unik itu. Tak lama berselang, suara pintu terbuka berbunyi pelan. Seorang tua dengan rambut dan jenggot panjang yang sudah memutih semua itu sudah bisa menebak maksud tamunya itu. 

Dengan wajah antusias pemuda itu mulai bicara tentang tujuannya ke sini. "Pak tua, saya dengar anda adalah pemikir hebat dan bijak" tanyanya. "Begitu ya" sergap pak tua itu sambil mengambil posisi tepat di depan pemuda yang sudah bangkit dari tempat duduknya tadi. "Hari ini saya datang dari kota sebrang untuk memberikan pertanyaan yang saya yakin anda tidak bisa menjawabnya dengan tepat" tambahnya sambil agak membusungkan dada. "Memangnya apa pertanyaan mu anak muda?" tanyanya. "Pak tua, di gengaman tanganku ada seekor anak burung, coba jawab bagaimana nasib anak burung itu setelah kubuka genggaman ini" pungkasnya. Dalam hati pak tua itu tahu kalo dia jawab mati pasti pemuda itu akan membiarkannya, dan sebaliknya ketika dia jawab hidup pemuda itu pasti akan meremas anak burung malang itu hingga mati. Jadi kesimpulannya anak muda itu hanya ingin mengecoh dengan pertanyaan semacam itu. Dan jawabannya sungguh tidak disangka pemuda itu, "Nak, jawabannya terletak di tanganmu, tergantung kamu sebab kamu bisa melakukan apa saja terhadap anak burung itu"

"Kamu punya kehendak, keputusan dan pilihan untuk membuatnya mati mengenaskan atau tetap hidup dengan harapan" tambahnya sambil berjalan menjauh menuju pintu rumah yang masih terbuk. Sebelum masuk rumah pak tua itu membalikan badan seraya berkata pelan, "kamu punya kehendak bebas nak, tapi kamu  punya hati dan Tuhan yang akan memberi balas setiap perbuatan" 

-----------------

Manusia diberi kehendak sekaligus dikaruniai akal untuk mengolahnya. Mau berbuat apa dan bagaimana adalah keputusan yang diambil menurut referensi akal yang berfikir, merekam dan meniru lingkungan sekitarnya. Masa depan  kita nanti tergantung apa yang sudah, sedang dan akan kita sendiri usahakan dan jalani, InsyaAllah. 

Solo, 9/01

Senin, 31 Desember 2018

Jangkrik dan Semut

Di malam tahun baru ini izinkan saya ngepost dua mahluk Allah ini, semut dan jangkrik. Struktur tubuhnya hampir sama, yaitu terdiri dari beberapa bagian. Tujuan hidupnya pun hampir serupa, mencari makan hari ini tanpa berfikir besok akan makan apa. Jangkrik bergerak dengan melompat, sedangkan semut merayap. Mereka sama-sama bergerak agar tetap hidup. 

Apa yang ada dipikiran mereka tidak bisa kita terka. Jangkrik yang hanya diam apakah sudah hampir meregang nyawa kita tidak tahu. Sementara semut yang hanya melangkah kecil kiri kanan apakah sedang mengintai jangkrik sebagai makan malam dia dan kawanannya sebelum tidur entahlah.

Stop. Jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Siapa tahu mereka sedang bercengkrama. Ngomongin kita, manusia. Mulutnya yang komat-kamit bisa jadi menertawakan, perihatin atau empati dengan kita yang katanya paling sempurna  tapi masih saja seenaknya. Gerakan semut  ke kiri kanan mungkin memperagakan tingkah polah kita yang tak jelas arahnya. Atau bahkan diamnya jangkrik "mengejek" sikap apatis kita terhadap masa depan manusia itu sendiri. 

Kalaupun akhir cerita jangkrik itu pasrah tubuhnya habis digerogoti kawanan semut setidaknya matinya bermanfaat. Tentu kita tidak 'sudi' belajar dari mereka yang tidak berakal. Tapi ketetapan Allah-lah yang menentukan perilaku mereka. Maka kita berfikir karena punya akal. 

#merenungkan

Lawu Semakin Ramai

Dulu adalah sebuah kemewahan bagi saya bisa berpiknik. Meski tak jauh-jauh, di Grojogan Sewu, Tawangmangu. Membawa uang secukupnya karena memang cuma itu yang kami punya waktu itu. Uang yang cukup untuk naik bus PP, bayar tiket masuk dan beberapa jajanan ringan tidak bersisa setibanya di rumah. Tapi sekarang beda. Lebih banyak pilihan tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Tapi memang sebanding dengan biaya yang harus kita keluarkan. 

Perkembangan sektor pariwisata saat ini memang luar biasa pesat dimana-mana. Kalo dulu kita berplesir ke Gunung Lawu destinasinya kalo nggak Air Terjun Grojogan Sewu ya Telaga Sarangan saja. Keduanya murni wisata alam yang dilengkapi beberapa fasilitas tambahan di dalamnya. Sekarang banyak sekali objek wisata alam yang dulunya biasa, setelah dimodifikasi dengan beraneka hiburan dan spot foto menjadi magnet wisatawan yang luar biasa. Bahkan, di musim liburan ini sekedar cari tempat parkir saja susahnya bukan main. Bermacam kendaraan roda empat berplat nomor luar kota membanjiri dan mebuat sesak jalan-jalan sepanjang Tawangmangu - Sarangan. 

Saya kira kepuasan kita saat ini bukan hanya menikmati keindahan alam atau bermain-main dengan berbagai macam wahana, tapi juga mengabadikan dan mengupload setiap moment liburan di media sosial. Oleh karena itu, pengelola objek wisata harus pandai merespon gejala seperti ini dengan menyedikan tempat-tempat yang 'ramah selfie',  instagramable dan eye-catching. Ditambah lagi kegandrungan masyarakat kita dalam hal kuliner harus menjadi bagian dari pengembangan objek wisata saat ini. 

Kemarin saat berkunjung ke rumah mbah di Karanganyar, kami berniat mengajak anak-anak menikmati beberapa wahana di Tawangmangu. Belum sampai pasar tw sudah banyak antrian kendaraan menuju ke atas. Memutuskan menuju Bukit Sekipan ternyata bukan pilihan yang tepat. Jalan menuju ke lokasi cukup sempit dan padat. Itupun setiba di lokasi kami kesulitan cari tempat parkir. Setelah berhasil membujuk si sulung akhirnya kami putuskan putar balik turun gunung. Sebagai pengobat kecewa kami mampir ke Taman Balekambang, masih di sekitar Tawanmangu. Hujan membuat kami tidak berlama-lama di sana. Molen Tawangmangu menjadi teman perjalanan kami menuruni gunung lalu menuju Solo. 

Semakin ramai tentunya semakin mengurangi keasrian daerah pegunungan. Meski begitu edukasi tentang pentingnya menjaga alam tetap asri adalah tanggung jawab kita bersama. 

#liburanakhirtahun #karanganyarhits #kabupatenkaranganyar#wisatakarangayar

Minggu, 23 Desember 2018

Plastik Mengancam Kita

Rasanya sulit kita lepas dari plastik. Setiap hari mustahil tangan ini tanpa bersentuhan dengan plastik. Dan saat ini banyak dinyatakan bahwa penggunaan plastik sudah dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Setelah viral Ikan Paus di wakatobi yang menelan 5.9 kg sampah plastik dalam perutnya membuat penggunaan plastik menjadi dilema di masyarakat. Sebuah lembaga konservasi lingkungan terkemuka merilis sebuah prediksi bahwa pada 2050 jumlah sampah plastik yang terbuang ke laut akan lebih banyak jumlahnya daripada populasi ikan. Meski saya pribadi ragu dengan prediksi hitungan itu tapi gejalanya sudah mulai tampak. 

Sungai dan pantai menjadi sasaran masyarakat untuk membuang sampah yang mayoritas berbahan plastik. Sampah-sampah itu sebagian mengendap di pinggir dan dasar sungai, sementara sebagian yang lain mengalir sampai jauh hingga lautan.

Beberapa daerah sudah mengeluarkan larangan penggunaan plastik dalam transaksi yang sifatnya retail. Tinggal menunggu diseminasinya ke daerah-daerah lain di Indonesia yang merupakan pengguna plastik terbesar kedua di dunia. 

#plasticpollution #saveourseafromplastic #saveourearth

Minggu, 16 Desember 2018

Bersama Mas Zaky

Coba saat orang awam lihat dia, Ahamd Zaky, sedang wedangan di pinggir jalan. Pasti banyak yang mengira profesi dia hanya mahasiswa atau karyawan biasa. Penampakannya sangat biasa, tutur bahasanya sederhana dan orang-orang di sekitarnyapun demikian. Begitu low profilenya pendiri sekaligus CEO Bukalapak.com ini sehinga banyak orang tak menyangka bahwa dia adalah pengusaha sukses dengan 2.500 karyawan dengan nilai aset belas Triliun Rupiah. 

Usianya masih sangat muda yakni 32 tahun. Dilahirkan dan dibesarkan di Masaran, Sragen oleh orang tua yang menjadi sosok dibalik kesuksesannya saat ini. Seminar kemarin sangat istimewa baginya karena dibersamai oleh sosok yang melahirkan, membesarkan dan mendidiknya sejak kecil, Ibunya. 

Zaky kecil tidak jauh beda dengan kita. Main bola, mandi di sungai, mengaji di mushola menjadi keseharian dia hingga beranjak dewasa. Dari cerita masa kecilnya kemarin, nampak orang tuanya sangat memahami ilmu parenting yang baik. Zaky tidak dikekang di rumah, bahkan orang tua membiarkannya bergaul dengan siapa saja di lingkungannya. Orang tuanya percaya bahwa dia punya 'imune' atau iman yang baik sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan yang buruk. Orang tuanya lebih banyak mendengar daripada memerintahnya anak-anaknya, sesekali memerintah dengan bahasa meminta bukan menyuruh. Dan untuk urusan masa depan anak-anaknya, orang tuanya tidak banyak intervensi. Asalkan itu baik, bermanfaat bagi banyak orang dan sesuai passion mereka. Bahkan selepas kuliah di ITB Zaky sempat jualan Mie Ayam di sekitar kampus. 

Zaky adalah salah satu dari sedikit orang yang sadar bahwa dunia terus berubah. Di revolusi industri 4.0 ini bukalapak.com menjadi agen perubahan cara pandang masyarakat dari analog ke digital. Dia berhasil membuka ruang ekonomi bagi jutaan UMKM dan masyarakat untuk bertransaksi dan mengais rejeki dari platform belanja online yang dia rintis dari nol. Kini bukalapak terus berkembang dan merespon perubahan dunia dengan inovasi dan investasi SDM yang cukup besar. 

Sabtu kemarin Mas Ahmad Zaky datang ke Solo khusus menghadiri seminar Yayasan Al Abidin Surakarta yang bertema "Membekali Generasi Alfa Menuju Revolusi Industri 4.0".

Senin, 10 Desember 2018

The Core

Kira-kira belasan tahun yang lalu kami pernah nonton science fiction movie yang berjudul the core di salah satu bioskop di Solo. Dalam film itu digambarkan bahwa bumi berusia tidak lama lagi. Sering terjadi bencana gempa, gunung meletus dan fenomena alam aneh yang dialami di hampir setiap belahan bumi. Para pemimpin negara maju berembug mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mengatasinya. Kemudian diutuslah ahli-ahli ilmu alam untuk mencari sekaligus memecahkan masalah tersebut.

Dengan batuan alat yang mirip Ultra Sonografi (USG) kira-kira, para ilmuwan mengindikasikan ada masalah yang terjadi di perut atau pusat bumi. Laju magma yang dikenal juga sebagai outer liquid core bergejolak dan tidak dalam koordinat gerak yang seharusnya. Kemudian mereka berpikir keras untuk mengatasinya. Sehingga dibuatlah sebuah kendaraan yang bisa menembus setiap lapisan bumi hingga bagian inti. 

Kemudian terpilihlah beberapa orang yang mewakili ilmuwan, teknisi, petualang, hingga tentara terbaik untuk menjalankan sebuah misi besar, menembus hingga inti bumi. Kendaraan yang digunakanpun didesain khusus, dari bahan khusus dan membawa bahan peledak berkekuatan tinggi (Trinitrotoluena) sebagai gerbong-gerbongnya. 

Setelah berhasil menembus lapisan kerak dan mantel bumi, tibalah kendaraan beserta awak itu ke tujuan. Dugaan ilmuwan bahwa magma  di sekitar inti bumi berhenti berputar terhadap the core itu benar. Sebagian magma beberapa kali meletup mendorong ke atas yang memicu bermacam bencana di permukaan bumi. Mulailah tim melancarkan SOP aksinya. Dengan kecepatan ultra, kendaraan dipacu mengelilingi inti bumi sambil menjatuhkan satu persatu gerbong peledak di setiap titik. Setelah gerbong peledak terlepas semuanya, kendaraan itu melaju keluar melalui jalur magma menuju kawah gunung berapi. Ledakan TNT itu akhirnya memicu pergerakan magma menjadi lebih intens dan stabil. Dan bumi kembali ke sedia kala. 

Itulah kisah fiksi tentang salah satu fenomena bumi kita. Namanya juga fiksi, tentu lebih banyak melibatkan imajinasi daripada kenyataan. Hingga kini perdepatan mengenai seperti apa bentuk bumi dan apa saja kandungan di dalamnya masih berlangsung dan menjadi dialektika ilmiah sepanjang sejarah. Terlepas dari itu ikhtiar ilmuwan harus kita apresiasi karena itu bentuk ekspresi rasa ingin tahu yang menjadi sifat dasar manusia.

#bledugkuwu #groboganhits #wisatajawatengah

Rabu, 05 Desember 2018

Marketing Penjual Garam

Saat melintas Jalan Raya Grobogan - Blora saya tergoda untuk mampir di Bledug Kuwu. Sebuah tempat wisata yang menyajikan fenomena alam yang tak biasa itu cukup menarik karena letupan lumpur panas yang keluar di beberapa lokasi.

Yang menarik disini sebenarnya bukan saja fenomena alam itu, tapi juga pada perilaku seorang pedagang air belerang dan garam yang membuka lapaknya di sekitar daerah letupan. Awalnya kami hanya ingin melihat-lihat saja dari kejauhan tanpa berpikir untuk mendekat ke lokasi letupan. Sampai ada seorang pedagang menarik perhatian dan mendatangi kami. Dia menunjukkan track pijakan yang aman untuk bisa lebih mendekat titik letupan terbesar. Saya kira petunjuknya sangat membantu mengingat tidak semua permukaan tanah gembur itu aman untuk dipijak. Kalo tidak hati-hati kaki kita bisa terjerembab dalam kubangan lumpur belerang itu. 

Tampaknya bapak itu sudah memulai aksinya. Sambil menuntun langkah kami mendekat, dia berakting sebagai pemandu wisata sekaligus story teller. Dia menjelaskan secara rinci bagaimana fenomena alam itu terjadi dan berlangsung hingga sekarang walau secara ilmiah masih banyak kejanggalan. Yang membuat kami berhenti sejenak sambil menggaruk-garuk kepala adalah mitos folktale yang disampaikan bahwa letupan paling besar itu dulu tempat keluarnya putra Aji Saka yang berbentuk ular naga dari pantai selatan. Yah, sekedar hiburan bolehlah didengarkan dengan seksama ceritanya. 

Menariknya lagi, sambil melanjutkan cerita bapak itu seolah menarik langkah kami menuju lapak kecil dengan sedikit barang dagangan. Hanya beberapa plastik garam dan botol yang katanya berisi air belerang. Karena merasa sudah dapat banyak hal dari beliau, kamipun merasa berhutang untuk melarisi dagangannya siang itu. Ternyata harganya sangat murah, satu sack garam ukuran sedang hanya dijual lima ribu dan sama halnya dengan air belerang per botol. 

Menurut teori marketing segitiga PDBnya (Positioning-Differentiation-Brand) Hermawan Kertajaya, penjual garam itu sudah melaksanakan lebih dari setengah dasar teori tersebut. Dia  sudah memiliki identitas khusus di mata calon pembeli sehingga menjadi pembeda dengan pedagang garam lainnya. 

#marketing

Jumat, 09 November 2018

Api 10 November

10 November 1945, pekik merdeka berpadu takbir bergaung di antara rongga-rongga langit Kota Surabaya. Jiwa siapa yang tidak terpanggil melihat kebebasan ada di ujung mata. Ya, kebebasan. Mereka berpikir betapa lelah, sengsara dan nestapanya selama ini ketika kaki-kaki asing itu menginjak-injak bumi pertiwi seenaknya. Mereka telah banyak mengambil harta berharga di penggalan surga nusantara ini. 

Pemuda-pemuda bergerak. Dari segala penjuru arah mata angin. Keluar dari desa-desa sunyi. Turun dari gunung-gunung tinggi. Mereka tutup sementara berjilid-jilid kitab agama, keluar dari tempat mereka mengisi ruhani. Keluar demi tegaknya martabat negara ini. 

Berbekal air wudhu yang menempel di kulit,  semangat di dada dan senjata seadanya kalian yakin bahwa inilah jalan usaha untuk mulia. Mau bersatu dengan siapa saja untuk kebaikan bersama. Saling berebut menjadi yang terdepan. Saling membantu meringankan beban saudara di medan laga. Saling mengisi kekosongan, memacah kebuntuan dan menggandeng kawan sejalan. Saling... Saling.. dan...Saling menjadi pemandangan penuh harap akan adanya kemenangan. 

Seorang pemuda naik ke atas mimbar. Dengan tatapan garang, suara pekik lantang dan telunjuk menjulang mengabarkan perlawanan. Bahwa ini saatnya kemerdekaan harus dipertahankan, anak bangsa harus disatukan, dan tujuan bersama harus didahulukan. Tidak ada kata menyerah untuk sebuah kebenaran dan mereka yakin bahwa Allah ada dipihak yang benar. Sehingga DIA memberi kemerdekaan kepada bangsa yang mau berusaha, berdoa dan bersatu padu. 

Maafkan kami pahlawanku. Abu kalian kami warisi di setiap peringatan tetapi api kalian yang dulu pernah membara, berkobar dan membakar kezaliman belum bisa kami ambil sepenuhnya. Kami masih sibuk dengan ke-aku-an yang bersemayam di dada. Semoga Allah menjadikan kami sebagai bangsa pejuang yang bermartabat dan sejahtera. 

#haripahlawan2018 #smpislamalabidin#fulldayandboardingschool

Rabu, 07 November 2018

E-Voting

Beberapa waktu yang lalu kami bersama Pengurus Osis SMP Islam Al Abidin mengadakan rapat koordinasi untuk merancang beberapa agenda dekat sekolah. Kami memang mendorong partisipasi aktif siswa dalam menyelenggarakan setiap kegiatan sekolah. 

Saat itu, kami beri beberapa tantangan kepada mereka yang salah satunya adalah menyelenggarakan pemilihan ketua osis yang beda dari biasanya. Alhasil, merekapun bergerak, belajar dan menyiapkan kegiatan supaya berlangsung dengan bermakna dan meriah. Kegiatanpun disusun layaknya pemilihan kepala daerah atau presiden. Mereka membuat media kampanye yang dipajang di setiap sudut sekolah, menyosialisasikan calon melalui media sosial (instagram, facebook, web, dll), menggelar uji publik visi dan misi kandidat serta diselenggarakan debat kandidat di roadshow terakhir menjelang pemungutan suara. Yang lebih istimewa adalah mereka menyelenggarakan pemungutan suara dengn media digital atau e-voting. 

Setelah mendata 800 lebih daftar pemilih tetap, mereka membuat undangan kepada pemilih yang merupakan warga sekolah, yaitu guru, karyawan dan siswa, untuk menggunakan hak pilih mereka di tempat dan waktu yang telah ditentukan. Dalam menggunakan haknya, pemilih datang ke TPS kemudian mengisi absensi dan mengantri menuju bilik suara. Dalam masing-masing bilik tersebut, terdapat laptop yang digunakan sebagai sarana pemungutan suara. Sebelum menentukan pilihan, siswa harus login sesuai dengan kode kelas dan nama siswa untuk bisa masuk ke layar yang memuat tiga kandidat ketua osis beserta visi dan misi mereka. Setelah pemilih meng-klik vote pada salah satu kandidat, pilihan tersebut akan otomatis tersimpan dan diolah di komputer server yang dioperasikan oleh siswa panitia. 

Setelah semua pemilih menggunakan hak suaranya, komputer server akan menampilkan perolehan suara masing-masing kandidat. Dan kandidat yang berhak menjadi ketua Osis masa khidmat 2019/2020 mendatang adalah kandidat nomor urut 1, Rokhim Trisnadi.  Putra asli Makasar itu mengungguli dua pesaingnya  Ridho Hadi dan Arkani Fauzan yang masing-masing yang masing-masing berada diurutan kedua dan ketiga. 

Kegiatan ini dimaksudkan sebagai ajang melatih kepemimpinanan siswa dan

wahana belajar berdemokrasi yang baik sebelum mereka nanti benar-benar menjadi pemilih yang cerdas dan bijak untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Selain itu, penggunaan E-voting ini sebagai langkah bijak mengurangi penggunaan kertas dan menarik minat seluruh siswa untuk menggunakan hak pilih mereka. 

Salut kami pada kalian......

Seminar Literasi

Giatkan literasi, SMP Al Abidin kirim 120 siswa mengikuti seminar literasi di UNS

Rabu, 31 Oktober 2018, 120 siswa SMP ISLAM AL ABIDIN SURAKARTA mengikuti Seminar Nasional Budaya Literasi dengan tema Literasi di Era Milenial yang diadakan Himpunan Mahasiswa FKIP UNS dalam rangka Pekan Bahasa dan Sastra 2018. 

Acara ini merupakan puncak di antara serangkaian acara yang telah diadakan sebelumnya seperti lomba baca puisi, lomba musikalisasi puisi dan lomba membuat cerpen. 

Seminar Nasional yang digelar di Auditorium UNS tersebut menghadirkan pembicara nasional terkemuka seperti Tere Liye dan Dwitasari yang merupakan penulis novel kenamaan Indonesia serta pembicara dari Badan Bahasa Provinsi Jawa Tengah. 

Tere liye menekankan kepada peserta yang kebanyakan para milenial itu untuk bergiat dalam literasi. Dengan literasi kita bisa menjadi pemenang dalam kontestasi global sekarang ini. Siswa yang dikirim ke seminar tersebut rata-rata memang penggemar novel-novel karya Tere Liye. Mereka sangat antusias mendengarkan wejangan dari novelis idola mereka sehingga setelah ini mereka bisa termotivasi untuk menulis novel. Artinya, yang selama ini hanya menjadi pembaca dan penikmat novel saja, mereka termotivasi untuk menulis karya-karya literasi sendiri. 

Dalam acara ini juga berlangsung penyerahan hadiah lomba literasi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Dalam sesi itu, salah satu siswa kelas 7 SMP Islam Al Abidin, Latifatun Azzahra, diberi penghargaan juara 2 lomba baca puisi tingkat Jateng dan DIY. 

Di akhir acara, Tere Liye meluangkan waktu untuk memberikan tanda tangan di buku-buka karyanya yang dibawa para peserta seminar dan menyediakan waktu juga untuk berbincang-bincang ringan. 

Keikutsertaan sekolah kami dalam acara ini hanya salah satu ikhtiar untuk menggalakkan budaya literasi peserta didik di sekolah. 

#smpislamalabidin #gerakanliterasi

Indonesia - Palestina

Saat melintasi sepanjang Jalan Asia - Afrika kita dapati beberapa bendera negara-negara peserta Konfrensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 kala itu. Yang menarik di sepanjang jalan itu lebih banyak terpasang bendera negara kita bersanding dengan bendera Palestina. 

Dugaan saya, banyaknya bendera kedua negara itu bukti bahwa sejarah bangsa kita sangat berkomitmen terhadap kemerdekaan negara Palestina. Dia saat itu menjadi satu-satunya negara peserta yang belum merdeka sehingga kemerdekaannya adalah janji bangsa Indonesia sebagaimana dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945.

#indonesiapalestine

Rabu, 31 Oktober 2018

Balada Orang Desa

Waktu Subuh terbangunkan oleh kebiasaan ayam dan ditambah pekik adzan yang lantang berkumandang. Masih gelap, tapi mata itu tetap awas menyisir jalan tanah yang masih basah menuju sumber air. Mereka mengambil air wudhu sekalian mengusap sisa air mengering di sudut mulut, mata dan telinga. Seusai sholat sepertinya mulai khusyuk berdoa. Bukan meminta atas materi, tapi lebih dari itu yaitu keselamatan dan keberkahan setiap langkah mencari nafkah lahir dan batin. 

Sepertinya engkau tak mau didahului fajar.  Saat semburat cahaya datang dari timur sudah mulai nampak, saat itu kau sudah siap dengan piranti kerja. Kanan cangkul, kiri sabit dengan masih bercelana sarung. Langkah kakimu tanpa beban dengan sesekali menyapa kiri dan kanan. Wajahmu bebas tersapu embun yang masih sedikit tersisa. Tak perlu menutupinya dengan masker apalagi helm karena memang tidak ada yang menggangu apalagi memberi penyakit. Sejak kecil engkau diajari memperlakukan alam, merawat hewan, menyiapkan pangan dan peduli lingkungan.

Orang desa itu tetap bekerja meski sengatan surya sudah di ubun-ubun kepala. Keringat mengucur deras seiring tebasan sabit ke ilalang yang semakin kencang. Tak ada yang menghentikan, kecuali lagi-lagi suara adzan yang melengking tanpa penghalang. Sekalipun celoteh kutilangpun diam. Orang desa itu sudah diperingatkan alam. Tak baik diri ini dipaksakan. 

Dia tak begitu merasa khawatir dengan masa depan atau apa yang besok dimakan. Rejeki nya adalah apa yang saat ini di genggaman. Mengeluhnya bukan karena kekurangan dan bersyukurnya memang merasa diri serba kecukupan. Karena dia sadar alam ini sudah banyak memberi kehidupan. 

Orang desa, mereka nyantanya masih ada. Bukan hanya ada di sinetron maupun sinema. Bukan seperti Si kabayan pemuda desa yang memburu Si Nyai hingga ke kota. Bukan seperti adegan pemeran FTV yang menyamar jadi orang desa karena menginginkan kembang desa. Atau sekedar menjadi objek wisata, resort maupun simbol kekayaan hayati yang dibangga-banggakan orang kota.

Keberadaan orang desa nyatanya menopang energi kehidupan orang kota. Dan menjaga bumi dari kepunahan lebih cepat. 

#orangdesa #pedesaan

Senin, 27 Agustus 2018

K-13

Ini kali kedua saya mengikuti Bimtek K-13 setelah dulu awal tahun 2014 sempat mengikutinya. K-13 awalnya digagas, dipersiapkan dan dimulai oleh menteri sebelumnya kemudian dihentikan perluasan implementasinya oleh menteri yang baru. Salah satu dalih penghentian itu karena belum siapnya daya dukung SDM (guru) dalam menerima perubahan. 

Sekarangpun masih berdengung bahwa K-13 adalah kurikulum yang cukup berat dan merepotkan bagi sebagian guru. Dari perangkat perencanaan hingga penilaian pembelajaran dinilai membebani kerja sebagian guru yang harus berfikir dan bekerja dua kali. Belum lagi proses pembelajaran yang akan mengubah paradigma pendekatan mengajar guru dihadapan siswa secara signifikan. Dan yang paling hangat adalah masalah pemberlakukan Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang dianggap malapetaka oleh beberapa siswa saat UNBK kemarin. 

Jika kita berpikir positif, K-13 mempunyai tujuan yang visioner, terutama dalam menyiapkan generasi emas 2045. Saat itu bangsa kita memiliki bonus demografi yang melimpah. Dan mesin pencetak kader bangsa itu adalah kurikulum pendidikan yang tepat dengan kebutuhan masa depan mereka. Apalagi revisi terakhir kurikulum ini menitikberatkan pada solusi atas masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini. 

Masalah output pembelajaran, kompetensi holistik, penguatan karakter dan budaya literasi adalah fokus implementasi K-13 yang tahun ini diberlakukan di seluruh sekolah di Indonesia. 

Coba kita hindari dugaan-dugaan yang justru melemahkan seperti "ganti menteri ganti kurikulum, kurikulum baru proyek baru" dan sejenisnya. Saatnya kita melihat ke depan, bahwa anak-anak didik kita butuh sentuhan, perlakuan dan perhatian untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

#kurikulum2013

Minggu, 26 Agustus 2018

Waktu Luang Kita Hari Ini

Saya pernah dengar kalo sekolah itu berasal dari kata 'skule' yang artinya waktu luang. Waktu luang itu tentunya waktu yang tidak mengikat kita pada tugas, tanggung jawab dan kaidah tertentu. Ya artinya, sesuka kita mau ngapain asal bernilai tambah dan tidak merugikan orang lain. Dan tentunya ini bisa dilakukan kapan dan dimana saja. 

Di sekolah formal kita mengenal mekanisme dan prosedur khusus untuk mencapai tujuan bersama-sama. Di luar sekolah (hari libur) seharusnya bisa demikian. Karena tujuan pendidikan utamanya tidak hanya bertambah ilmu, tapi juga harus bertambahnya kebahagiaan dan kesadaran akan tugas dan kewajiban kita sebagai insan yang berakal. Menikmati alam salah satunya.  

Semakin sering kita ajak anak menikmati alam, saya percaya mereka akan memiliki kepedulian akan setiap ciptaan Allah. Sifatnya yang alami membuat alam bisa menyatu pada fitrah manusia, yaitu kebahagian. Siapapun akan bahagia menyaksikan alam yang asri, sejuk dan alami. 

Dan inilah waktu luang (sekolah) kita hari ini sembari kondangan. Menikmati alam asri dan bermain air di Desa Cumpleng, Ngargoyoso. Desa yang terletak di kaki Gunung Lawu ini tidak hanya menyajikan alam yang asri dan alami tapi juga hasil bumi yang melimpah.

Selasa, 21 Agustus 2018

Bejo

Sewaktu sekolah dulu saya punya teman, sebut saja Bejo (bukan nama sebenarnya). Di kalangan teman-teman dan guru, Bejo orangnya terkenal 'entengan', 'grapyak' dan murah hati. Saking murah hatinya, dia rela setiap hari dijadikan bahan candaan, dikerjai sampai 'digasaki' (dirundung). 

Tidak hanya di sekolah, di antara teman main di kampung, dia terkenal orang yang baik dan 'enthengan'. Dari urusan manjat pohon mangga, motong bambu, atau urusan-urusan yang melibatkan fisik lainnya dia selalu berada di depan. 

Viralnya nama Joni, anak pemanjat tiang bendera dari NTT, menggiring pikiranku ke masa lalu. Siapa lagi kalau bukan Bejo, si bocah enthengan itu, yang sering terlibat adegan yang sama yaitu memanjat tiang bendera. Bahkan aksinya tidak hanya terhitung sekali, tetapi berkali-kali terekam ingatan saya. Seusai menunaikan aksinya, Bejo tidak pernah mendapat apresiasi sekedar tepuk tangan atau jabat tangan dari kepala sekolah apalagi sampai dipanggil ke istana presiden. 

Tidak ada amal yang tak tercatat. Di tahun-tahun berikutnya Bejo sering dinaungi keberuntungan demi keberuntungan. Sekolahnya juga lancar meski tidak begitu gemilang. Setelah lulus mendapat pekerjaan juga baik dan menghasilkan. Bahkan setelah memutuskan berwirausaha juga mendapatkan banyak limpahan keuntungan. 

Bejo telah menabung kebaikan di masa lalunya. Kerja keras, pengabdian dan kemurahan hatinya sudah terbayar dengan hasil yang dia nikmati hari ini. Membuat orang bahagia tidak ada ruginya, membenci perbuatan buruk orang lain tidak ada untungnya. Itulah pelajaran hidup yang sangat berharga dari seorang Bejo.

Minggu, 19 Agustus 2018

Silih Berganti

Kita sekarang ini menggantikan posisi orang-orang terdahulu. Dalam keluarga, kita sebagai ayah atau ibu menggantikan posisi ayah dan ibu kita terdahulu. Begitupun dalam pekerjaan, jabatan, tempat tinggal, atau urusan hidup yang lain, kita hanya menggantikan peran orang-orang terdahulu

Selain menggantikan, kita esok atau nanti juga akan digantikan. Status, peran dan pekerjaan kita akan digantikan oleh generasi sebelum kita dan begitu seterusnya. Tentu saja kita pasti berganti peran. Baik atau buruk tergantung diri kita masing-masing. Kemarin kita jadi anak dan sekarang tiba-tiba sudah jadi bapak. Baru kemarin kita jadi siswa, sekarang tau-tau sudah jadi guru. Peran baru menimbulkan konsekuensi baru. Berhasil dengannya atau sebaliknya akan teruji oleh kemauan untuk belajar dan berusaha. 

Pastinya juga kita akan meninggalkan status dan peran kita. Apakah rela status dan peran kita digantikan oleh mereka yang sama dengan kita atau bahkan lebih buruk? tentu tidak. Itulah fungsi pendidikan (formal, informal maupun nonformal). Mencetak kader pengganti yang lebih unggul sehingga urusan-urusan dunia yang semakin rumit ini bisa teratasi dan berjalan baik. Makanya, silih berganti itu pasti. Terima saja dan lakukan yang terbaik untuknya.

#refleksi

Mereka Orang-orang Ikhlas

Kabar itu sudah terdengar di setiap sudut kampung. Kabar tentang kedatangan tentara penjajah di kota kecil yang selama ini relatif aman dari peperangan. Warga mulai panik. Hari-hari mereka disibukkan dengan upaya mengamankan harta yang rata-rata berupa hewan ternak dan hasil panen. Para tentara pejuang turun ke kampung-kampung menenangkan warga dan memberi mereka panduan tetang harus bagaimana saat pertempuran benar-benar terjadi. 

Para tentara pejuang tidak boleh panik. Mereka sudah mendengar kabar itu jauh hari dari telik sandi mereka di perbatasan. Mereka juga sudah siap menghadang penjajah dengan sumber daya yang ada. 

Ternyata kabar itu benar, tentara penjajah dengan kendaraan perang dan senjata lengkap mulai menyentuh perbatasan kota. Sebelum merangsek masuk ke kampung-kampung, kedatangan mereka sudah disambut satu kompi tentara pejuang. Perangpun mulai pecah dari perbatasan. Ternyata Belanda terlalu digdaya untuk dihadang, mereka terus merangsek masuk sampai tengah kota. 

Perlawanan semakin sengit. Desingan peluru bersahutan diperjualbelikan oleh kedua kubu. Asap hitam mengepul tinggi, beberapa bangunan runtuh dan bau anyir darah sudah mulai menggangu hidung. Tentara pejuang mulai kewalahan. Kondisi mereka sudah tidak teratur. Ada yang terus maju melancarkan serangan, ada yang mundur ke kampung-kampung dan ada yang sibuk mengevakuasi para pejuang yang terluka. 

Dalam situasi ini mulai banyak yang berguguran, baik dari kubu musuh maupun kebanyakan dari tentara pejuang. Tentara penjajah semakin jumawa. Mereka merasa di atas angin. Kota penting ini akan segera takluk di tangan mereka. kampung-kampung sudah mulai ditinggalkan warganya. Sunyi lengang tanpa suara yang berarti.  

Saat pasukan musuh semakin masuk menyisir di setiap sudut kampung, tiba-tiba dentuman meriam terdengar dari empat arah mata angin. Tentara penjajahpun mulai berpencar mencari perlindungan. Sedetik setelahnya, tentara pejuang bersama warga menyergap dari segala arah dengan senjata seadanya dalam genggaman mereka. Pekik merdeka dan takbir tak henti-henti menyeruak di setiap telinga. Mereka tak peduli dengan peluru yang akan menembus dada dan memecahkan batok kepala. Tanpa gentar, terus maju dan menyerang dengan segala usaha. Saat itu, tidak ada kata aku bagi warga, yang ada hanyalah kita dan anak cucu mereka. 

Akhirnya, usaha mereka mulai nampak. Banyak tentara penjajah yang berguguran. Sebagian sisanya mulai mundur tunggang langgang. Tentara penjajahpun mulai tewas satu persatu dan akhirnya kalah. 

Perjuangan mereka dicatat, dikenang dan diabadikan dalam monumen sejarah. Sejarah yang tidak mengenal kata aku untuk diri dan keluarga mereka, yang tidak mengenal ego untuk egoisme kepentingan diri mereka dan bahkan tidak mengenal masa depan diri mereka sendiri. Perjuangan ini untuk kita; anak, cucu, cicit dan keturunan mereka agar merasakan udara kemerdekaan.

#perjuangankemerdekaan #republikindonesia

Jumat, 10 Agustus 2018

Obrolan ala Wedangan

Wedangan atau angkringan adalah sebuah kearifan lokal. Ciri khas yang ditampilkan sangat identik dengan lokalitas masyarakat kita. rata-rata didirikan non permanen, atap tenda dan hidangan yang disajikan cukup sederhana sekaligus murah meriah. Hanya bermodal 10.000 saja kita bisa minum, makan plus lauk yang rata-rata gorengan dan jeroan serta bisa berjam-jam ngobrol seputar apa saja. 

Yang selalu menarik adalah tajuk pembicaraan yang dibawa. Para wedangers sangat konsisten dan fokus berjam-jam membahas tema tertentu. Tema bisa apa saja, mulai dari pengalaman hidup, pekerjaan, lingkungan bahkan tentang agama dan politik. Yang sedang ramai dibicarakan adalah tentang pilpres 2019. Mereka sangat piawai mengupas setiap kandidat, mengungkap setiap kekurangan dan kelebihan mereka, dan dengan analisa sekenanya mencoba menjatuhkan yang satu dan meninggikan yang lainnya. 

Suasana sepertinya mulai memanas seiring teh hangat yang menjadi dingin. Ada salah seorang yang menyanggah yang lainnya. Ada yang jadi penengah dan coba masuk ke tema lain. Tapi hasilnya ya semakin sama-sama tidak mengenakkan. Meski begitu akhirnya mereda juga. Setelah ganti tema sepertinya kurang menarik, akupun bergegas pergi. 

Yah, semoga budaya politik kita membaik, masyarakat makin sejahtera, ketimpangan mengecil, dan yang jelas harus mengangkat harkat dan martabat kemanusian kita menjadi lebih baik. 

#wedangansolo #debatkusir #politikindonesia

Rabu, 08 Agustus 2018

Mewaspadai Zona Nyaman

Mentoring leadership kali ini saya buka dengan mengajukan studi kasus ringan. 

Dua desa masing-masing dialiri oleh dua sungai yang berbeda. Desa A terhampar di sepanjang sungai dengan karakter air yang stabil, berkecukupan dan bersahabat. Sebaliknya, desa B terletak di pinggiran sungai yang sangat labil. Sungai desa B cukup ekstrim kondisi airnya. Disaat musim hujan air yang datang berlebihan, bahkan hampir pasti meluapkan air ke perkampungan. Sedangkan disaat musim kemarau panjang kering kerontang. 

Setelah diuji dengan kondisi yang sama sekali berbeda tersebut, desa mana yang peradabannya lebih maju 100 tahun kemudian? 

Spontanitas banyak yang menjawab desa A yang akan lebih maju. Mereka beranggapan bahwa kecukupan dan kenyamananlah akan membuat mereka berhasil. Ada juga beberapa yang memberi jawaban desa B meski belum bisa memberi alasan yang tepat. 

Orang-orang desa A dan B berangkat dari kondisi yang sama saat mereka harus memutuskan di pinggir sungai yang mana mereka akan tinggal. Sampai saat waktu membuktikan bahwa warga desa B lebih dinamis dalam berfikir dan berinovasi. Kondisi air sungai yang labil itulah yang mendorong mereka terus mencari cara agar tidak kebanjiran saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Mereka berupaya berkali-kali secara turun temurun membangun teknologi dan bekerja keras dalam mewujudkannya. tepat di keturunan yang ketiga (100 tahun kemudian) desa B sudah tidak lagi punya masalah banjir maupun kekeringan. Bahkan, mereka berhasil mengembangkan teknologi pertanian, perikanan dan transportasi jauh lebih maju dibandingkan desa A yang memulainya dari kondisi nyaman. 

Dari kasus di atas, bukan berarti anak yang dalam kondisi nyaman dan berkecukupan itu lebih susah berkembang. Hanya saja jangan sampai kenyamanan itu melenakan dan melalaikan mereka dalam belajar dan berusaha untuk masa depan. Kera yang tidur di pohon saat angin sepoi-sepoi lebih rentan jatuh dari pada kera yang tidur di tengah terpaan badai. Dengan kenyaman dan kecukupan mestinya lebih membuka peluang untuk banyak belajar dan mengembangkan diri untuk bekal masa depan. 


#mentoringleadership

#smpislamalabidin 

#fulldayandboardingschool

Selasa, 07 Agustus 2018

Tawakal Sekaligus Ikhtiar


Menceritakan kejadian lama kepada generasi baru. Yaitu cerita heroik selamatnya pesawat yang mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Juwiring, Klaten di awal tahun 2000an. Kapten Abdul Majid sebagai Pilot pesawat penumpang menginspirasi banyak orang pasca kejadian tersebut.
Di udara ketika mesin mati kira-kira apa yang akan dilakukan oleh seorang pilot dan para krunya?, apakah mereka akan pasrah, meratapi nasib, atau mencari selamat sendiri?. Tentu tidak. Profesionalisme mereka dituntut untuk mendahulukan keselamatan penumpang dari pada diri mereka sendiri.
Sang kapten mengajarkan optimisme karena ada Allah yang akan memberikan pertolongan. Tawakalnya berlanjut pada sebuah ikhtiar yang luar biasa. Semua kru pesawat diyakinkan bahwa mereka harus tenang, berdoa dan berusaha. Sekecil apapun peluang selamat, mereka harus tetap optimis dengan usaha dan berserah diri kepada Sang Pemberi Kehidupan. Akhirnya pesawat bisa mendarat dengan semua penumpangnya selamat.
Sang kapten dalam kejadian itu memerankan dua tugas pokok dan fungsi manusia sekaligus, yaitu sebagai abdullah dan khalifah. Sebagai hamba Allah tidak ada yang lebih utama dari beribadah dan bertawakal. Dan dengan akalnya dia berusaha untuk mencari solusi atas masalah-masalah manusia.