Selasa, 15 November 2016

Penyimpangan Sosial; Pembelajaran IPS

Interaksi sosial adalah sebuah dinamika kelompok yang menghasilkan perilaku masyarakat atau individu. Perilaku tersebut bisa negatif atau positif,  bisa menyimpang atau sesuai nilai dan norma masyarakat.  Perilaku positif tentu saja berdampak baik bagi pembangunan peradaban masyarakat.  Sebaliknya,  perilaku menyimpang akan membawa dampak buruk terhadapan masa depan bangsa kita.
Kenakalan remaja yang sering diwartakan di media bukti bahwa proses sosialisasi remaja-remaja kita kurang sempurna dan asupan informasi sehari-hari yang tidak mendukung tumbuh kembang mereka. Di zaman informasi seperti sekarang ini,  perilaku menyimpang mudah sekali menular.  Melalui TV dan gawai yang terhubung internet remaja kita melihat kemudian meniru apa yang baru ditontonnya baik secara penampilan maupun sikap.
Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi pada mereka,  sehingga sebagai manusia terdidik, siswa diharapkan mampu mendeteksi, menganalisa dan mencegah penyimpangan sosial terjadi pada dirinya dan lingkungan sekitarnya. Sebagai agent of change, setiap siswa harus punya visi dan misi untuk mencegah dan menanggulangi penyakit sosial, utamanya bagi diri mereka sendiri.

Dengan Teknik Role Play
Dalam pembelajaran IPS ini guru memberikan pesan tentang bahaya dan dampak penyimpangan sosial sangat penting untuk siswa karena mereka angkatan rentan terhadap pelaku maupun korban penyimpangan sosial.
Dengan metode bermain peran atau role play siswa lebih antusias dan pesan dari pembelajaran dengan mudah tersampaikan.  Pertama guru memberikan pemahaman dasar dan contoh perilaku menyimpang yang terjadi di sekitar,  kemudian siswa berdiskusi menentukan tema cerita dan membuat skenario bermain peran. Setiap siswa harus berlatih dan menghayati peran yang dia lakoni.  Setelah ditampilkan dengan disaksikan siswa yang lain,  setiap kelompok membuat kesimpulan dan analisa cerita terkait dengan penypangan sosial. Di akhir guru membuat kesimpulan umum dari penampilan siswa dan meberikan penekanan moral terhadap materi yang baru saja dipelajari.

Senin, 14 November 2016

PAKIS 2016

Islam mengajarkan kita untuk memilih pemimpin yang baik. Jangankan dalam urusan bernegara atau organisasi. Dalam melakukan 'safar'pun,  kita harus menunjuk seorang ketua atau koordinator selama melakukan 'safar'. Tentu saja,  pemimpin yang ditunjuk adalah orang yang mempunyai akhlak paling baik, paling dekat dengan teman-temannya, paling dapat mengutamakan kepentingan orang lain (tidak egois) dan senantiasa mencari kesepakatan rombongan (musyawarah).
Sebagai sebuah organisasi,  OSIS mempunyai peran dan tanggung jawab melaksanakan program-program pemberdayaan siswa. Sehingga reorganisasi secara berkala perlu dilakukan untuk membelajarkan kepemimpinan kepada lebih banyak siswa. 
Dan mulai saat ini,  OSIS melaksanakan program kaderisasi yaitu menyiapkan pimpinan OSIS masa khidmat selanjutnya. Sebelum pemilihan, digelar sosialisasi untuk menjaring minat siswa mendaftar sebagai calon ketua maupun pengurus.  Setelah itu ada 'fit and proper test' untuk menilai modal dasar calon sebagai pemimpin.
Setelah proses seleksi dan mendefinitifkan calon ketua,  diselenggarakan Pemilihan Ketua Osis (PAKIS)  2016/2017 dengan sistem Langsung,  Umum,  Bebas dan Rahasia (LUBER). Penghitungan suara dilaksanakan secara langsung dan terbuka untuk mengetahui Ketua Osis terpilih. 
Kemudian,  ketua osis terpilih,  ketua osis demisioner dan beberapa dewan pengurus serta didampingi perwakilan dewan guru membentuk formatur untuk merumuskan struktur organisasi, internalisasi visi dan misi kepada ketua dan pengurus baru, penyusunan program kerja dan persiapan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Setelah semuanya 'fix' dilakukan pelantikan kepengurusan baru dan serah terima jabatan dari kepengurusan lama dan mereka sudah bisa secara resmi melaksanakan masa khidmatnya untuk kemaslahatan semua,  khususnya siswa.

---------
pemilihan Ketua OSIS dijadikan ajang untuk menyemai bakat-bakat yang secara fitrah melekat di setiap manusia sebagai khalifah di muka bumi.  Sehingga kedepan mereka tidak hanya bisa memimpin tapi juga bisa memilih pimipin yang baik.

Sabtu, 12 November 2016

Belajar Integritas dari nenek penjual mainan

Siang tadi seorang nenek dengan sepeda kayuh 'bronjong' yang tersandar di pagar rumah orang nampak nunggu pembeli sambil sesekali memukul-mukul mainan dengan harapan menarik perhatian orang sekitarnya.  Dan saya pun tertarik untuk berhenti, dan berfikir, 'wah, lumayan buat oleh-oleh anak sekaligus mengenalkan kalo mainan seperti ini cukup berharga bagi bapaknya waktu kecil.
Saya menghampiri dan terjadi transaksi; 'pintenan niki bu?' Walaupun ada tulisannya Rp. 2000,- minimal sebagai basa-basi awal transaksi. 'ingkang alit kaleh ewu,  ageng tigang ewu'. Sambil milih-milih saya langsung putuskan beli, 'Njih,  ingkang alit mawon kalih' sambil mengulurkan uang kertas 5 ribuan. kemudian nenek itu mengambil tas kecil lusuh dari saku celana dan nampak agak kesulitan mencari kembalian seribu rupiah. Kemudian saya berinisiatif, 'pun mbah,  kersane' harapan saya kembalianya buat beliau, tapi beliau langsung menyahut 'mboten-mboten,  niki wonten kok mas' sambil mengeluarkan satu koin ribuan dan menyerahkan ke saya sambil berujar 'nuwun njih mas', 'njih sami-sami' balasku.
Lesson Learned:
Saya ngga' bisa membayangkan atau mengira-ira berapa pendapatan si nenek dari berjualan mainan tradisional semacam itu dengan mengayuh sepeda seharian, tentu tidak banyak.  Tapi, prinsip untuk tidak meminta belas kasihan nampak terlihat dari cara dia menolak kelebihan.

Jumat, 11 November 2016

Satu Langkah untuk Negeri

Negeriku sudah terkotak-kotak
Negeriku sudah penuh pro dan kontra
Negeriku sudah penuh dengan 'fans' dan 'haters'
Negeriku sudah banyak pendukung dan penentang

Di wall sudah banyak saling membenci
Di televisi sudah beringas saling menghujat dan dengki
Di tempat umum sudah banyak saling mencurigai
Di jalan raya banyak umpatan dan caci maki

Sekarang saatnya,
Satukan langkah membangun bangsa
Mengingat mereka (pahlawan) telah menebusnya (kemerdekaan) dengan darah,  keringat dan air mata... Jangan cederai cita-cita mereka untuk Indonesia Jaya
Syukuri nikmat Allah dengan aksi yang berguna

Selamat Hari Pahlawan

Berusaha menjadi 'ayah'

Saya pernah membaca sebuah 'quote' yang saya lupa dari siapa,  kira-kira seperti ini bunyinya;  jika ingin melihat masa depan sebuah bangsa,  lihatlah sekarang,  ditangan lelaki semacam apa anak-anak bangsa dibesarkan'.
Saya sangat sepakat dengan itu,  peran seorang bapak dalam menyiapkan generasi sangat dominan. Kita lihat tokoh-tokoh bangsa,  the founding fathers,  orang-orang sukses, bahkan para diktator kondang dalam sejarah dunia banyak mengambil inspirasi, ditempa dan dididik oleh bapak-bapak yang 'luar biasa'. Saya tertarik untuk mengambil teori trilogi kepemimpinan dari Ki Hajar Dewantara yang berbunyi 'Ing Ngarsa Sung Tuladha,  Ing Madya Mangun Karsa,  Tut Wuri Handayani' untuk menjelaskan pola pengasuhan seorang bapak kepada anak-anaknya.
Ing ngarsa sung tuladha, di depan menjadi contoh. Orang tua,  adalah model bagi anak-anaknya,  apalagi ketika mereka masih kecil.  Segala sesuatu,  gerak-gerik,  ucapan dan bahkan bagaimana meraka (orang tua) menyikapi persoalan sangat mudah dan rentan ditiru.  Maka,  kita mencoba untuk menjadi pribadi yang sempurna minimal didepan anak-anak kita. Dan anak-anak kita adalah peniru ulung,  sehingga mereka hanya akan meniru orang tua dari sisi yang baik saja.
Ing madya mangun karsa,  di tengah sama-sama bekerja.
Selain sebagai model,  bapak harusnya hadir dalam membersamai anak-anak. Mengajarkan anak untuk melakukan sesuatu,  memecahkan masalah bersama, atau sekedar membersamai dalam bermain.  Di sini seorang bapak adalah fasilitator,  bukan seorang mandor yang asal memberi perintah.
Tut wuri handayani,  di belakang memberikan dorongan.
Dalam melalui hari-hari mereka,  anak-anak kita pasti menghadapi bermacam dinamika; gagal/berhasil,  dipuji/diolok-olok,  senang/sedih dll.  Sehingga dalam 'ups and downs of their live' bapak hadir sebagai motivator,  memompa semangat  dan memberikan dorongan moral agar mereka tidak merasa sendiri.
Sulit memang menjadi figur yang ideal,  tapi tidak ada salahnya kita mulai berbenah dan berubah.
Mudah-mudahan,  dari tangan kita (bapak) akan lahir generasi yang kuat, berakhlak karimah, berkarakter dan taqwa yang akan menjadi pendekar-pendekar bangsa dalam bidang mereka masing-masing.

Selamat Hari Bapak Nasional 2016

Rabu, 02 November 2016

Kuat Arus dan Beda Potensial

Salah satu kebutuhan utama masyarakat modern adalah listrik.  Dengan aliran listrik segala kebutuhan hidup menjadi lebih ringan dan mudah,  mulai dari menyimpan dan memasak makanan,  alat-alat elektronik rumah tangga,  'gadget',  alat penerangan,  serta kendaraan sudah mulai menggunakan energi listrik. Ilmu dasar tentang kelistrikan harus dikuasai setiap orang sehingga bisa meminimalisir dampak/efek yang ditimbulkan karena 'installation fault' atau 'short-circuited' yang bisa menyebabkan kebakaran,  ledakan atau efek bahaya yang lain.
Dalam pembelajaran Fisika siswa diharapkan mengetahui prinsip dasar pengukuran arus,  tegangan dan cara penggunaan alat ukur listrik dengan bereksperimen menggunakan alat ukur seperti voltmeter dan amperemeter. 
Dari uji coba tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa:
1. Untuk mengukur arus listrik digunakan amperemeter yang dalam penggunaannya harus dihubungkan secara seri dengan hambatan.
2. Untuk mengukur tegangan listrik digunakan voltmeter yang dalam penggunaanya harus. dihubungkan secara pararel dengan hambatan.
3. Nilai arus akan sama pada semua hambatan jika rangkaian dipasang secara seri.
4. Nilai tegangan akan sama pada semua hambatan jika rangkaian dipasang secara pararel.

'Outcome' dari setiap pembelajaran bukan hanya sekedar pengetahuan saja,  tapi juga harus menyentuh aspek keterampilan.  Siswa tidak hanya tahu apa,  tapi juga bisa apa.

Ciptakan Kesulitan & Ketidaknyamanan

Sebuah pepatah Tiongkok mengatakan bahwa 'kesuksesan itu akan diperoleh dengan tidur di atas kayu bakar dan mencicipi empedu'. Artinya tidur di atas kayu bakar itu sama sekali tidak nyaman,  sakit,  dan bisa-bisa melukai tubuh kita dan mencicipi empedu itu biangnya rasa pahit.  Jadi kesusksesan maupun kejayaan bukan dirintis dari kebiasaan-kebiasaan yang nyaman, mudah, manis,  dan enak tapi melalui tempaan kesulitan dan ketidaknyamanan yang tercipta alamiah atau sengaja diciptakan sendiri.
Anak-anak ini telah secara sadar menciptakan kesulitan dan ketidaknyamanan mereka.  Seharusnya bisa istirahat mereka memilih beraktifitas,  bisa berteduh mereka memilih berpanas-panasan dan bisa bermain mereka memilih serius berlatih.
Dan hasilnya tidak hanya untuk sebuah event yang akan mereka jalani,  tapi masa depan yang lebih panjang dan terjal lagi.

Mereka adalah tim Pasukan Pramuka Inti Al Abidin (PASKIAL)  yang akan ambil bagian dalam Kemah Wilayah (KEMWIL)  JSIT Jawa Tengah,  di Bumi Perkemahan AKMIL Magelang,  tanggal 4 s.d 8 November 2016.

Semoga sukses dan istiqomah..