Minggu, 16 Desember 2018

Bersama Mas Zaky

Coba saat orang awam lihat dia, Ahamd Zaky, sedang wedangan di pinggir jalan. Pasti banyak yang mengira profesi dia hanya mahasiswa atau karyawan biasa. Penampakannya sangat biasa, tutur bahasanya sederhana dan orang-orang di sekitarnyapun demikian. Begitu low profilenya pendiri sekaligus CEO Bukalapak.com ini sehinga banyak orang tak menyangka bahwa dia adalah pengusaha sukses dengan 2.500 karyawan dengan nilai aset belas Triliun Rupiah. 

Usianya masih sangat muda yakni 32 tahun. Dilahirkan dan dibesarkan di Masaran, Sragen oleh orang tua yang menjadi sosok dibalik kesuksesannya saat ini. Seminar kemarin sangat istimewa baginya karena dibersamai oleh sosok yang melahirkan, membesarkan dan mendidiknya sejak kecil, Ibunya. 

Zaky kecil tidak jauh beda dengan kita. Main bola, mandi di sungai, mengaji di mushola menjadi keseharian dia hingga beranjak dewasa. Dari cerita masa kecilnya kemarin, nampak orang tuanya sangat memahami ilmu parenting yang baik. Zaky tidak dikekang di rumah, bahkan orang tua membiarkannya bergaul dengan siapa saja di lingkungannya. Orang tuanya percaya bahwa dia punya 'imune' atau iman yang baik sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan yang buruk. Orang tuanya lebih banyak mendengar daripada memerintahnya anak-anaknya, sesekali memerintah dengan bahasa meminta bukan menyuruh. Dan untuk urusan masa depan anak-anaknya, orang tuanya tidak banyak intervensi. Asalkan itu baik, bermanfaat bagi banyak orang dan sesuai passion mereka. Bahkan selepas kuliah di ITB Zaky sempat jualan Mie Ayam di sekitar kampus. 

Zaky adalah salah satu dari sedikit orang yang sadar bahwa dunia terus berubah. Di revolusi industri 4.0 ini bukalapak.com menjadi agen perubahan cara pandang masyarakat dari analog ke digital. Dia berhasil membuka ruang ekonomi bagi jutaan UMKM dan masyarakat untuk bertransaksi dan mengais rejeki dari platform belanja online yang dia rintis dari nol. Kini bukalapak terus berkembang dan merespon perubahan dunia dengan inovasi dan investasi SDM yang cukup besar. 

Sabtu kemarin Mas Ahmad Zaky datang ke Solo khusus menghadiri seminar Yayasan Al Abidin Surakarta yang bertema "Membekali Generasi Alfa Menuju Revolusi Industri 4.0".

Senin, 10 Desember 2018

The Core

Kira-kira belasan tahun yang lalu kami pernah nonton science fiction movie yang berjudul the core di salah satu bioskop di Solo. Dalam film itu digambarkan bahwa bumi berusia tidak lama lagi. Sering terjadi bencana gempa, gunung meletus dan fenomena alam aneh yang dialami di hampir setiap belahan bumi. Para pemimpin negara maju berembug mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mengatasinya. Kemudian diutuslah ahli-ahli ilmu alam untuk mencari sekaligus memecahkan masalah tersebut.

Dengan batuan alat yang mirip Ultra Sonografi (USG) kira-kira, para ilmuwan mengindikasikan ada masalah yang terjadi di perut atau pusat bumi. Laju magma yang dikenal juga sebagai outer liquid core bergejolak dan tidak dalam koordinat gerak yang seharusnya. Kemudian mereka berpikir keras untuk mengatasinya. Sehingga dibuatlah sebuah kendaraan yang bisa menembus setiap lapisan bumi hingga bagian inti. 

Kemudian terpilihlah beberapa orang yang mewakili ilmuwan, teknisi, petualang, hingga tentara terbaik untuk menjalankan sebuah misi besar, menembus hingga inti bumi. Kendaraan yang digunakanpun didesain khusus, dari bahan khusus dan membawa bahan peledak berkekuatan tinggi (Trinitrotoluena) sebagai gerbong-gerbongnya. 

Setelah berhasil menembus lapisan kerak dan mantel bumi, tibalah kendaraan beserta awak itu ke tujuan. Dugaan ilmuwan bahwa magma  di sekitar inti bumi berhenti berputar terhadap the core itu benar. Sebagian magma beberapa kali meletup mendorong ke atas yang memicu bermacam bencana di permukaan bumi. Mulailah tim melancarkan SOP aksinya. Dengan kecepatan ultra, kendaraan dipacu mengelilingi inti bumi sambil menjatuhkan satu persatu gerbong peledak di setiap titik. Setelah gerbong peledak terlepas semuanya, kendaraan itu melaju keluar melalui jalur magma menuju kawah gunung berapi. Ledakan TNT itu akhirnya memicu pergerakan magma menjadi lebih intens dan stabil. Dan bumi kembali ke sedia kala. 

Itulah kisah fiksi tentang salah satu fenomena bumi kita. Namanya juga fiksi, tentu lebih banyak melibatkan imajinasi daripada kenyataan. Hingga kini perdepatan mengenai seperti apa bentuk bumi dan apa saja kandungan di dalamnya masih berlangsung dan menjadi dialektika ilmiah sepanjang sejarah. Terlepas dari itu ikhtiar ilmuwan harus kita apresiasi karena itu bentuk ekspresi rasa ingin tahu yang menjadi sifat dasar manusia.

#bledugkuwu #groboganhits #wisatajawatengah

Rabu, 05 Desember 2018

Marketing Penjual Garam

Saat melintas Jalan Raya Grobogan - Blora saya tergoda untuk mampir di Bledug Kuwu. Sebuah tempat wisata yang menyajikan fenomena alam yang tak biasa itu cukup menarik karena letupan lumpur panas yang keluar di beberapa lokasi.

Yang menarik disini sebenarnya bukan saja fenomena alam itu, tapi juga pada perilaku seorang pedagang air belerang dan garam yang membuka lapaknya di sekitar daerah letupan. Awalnya kami hanya ingin melihat-lihat saja dari kejauhan tanpa berpikir untuk mendekat ke lokasi letupan. Sampai ada seorang pedagang menarik perhatian dan mendatangi kami. Dia menunjukkan track pijakan yang aman untuk bisa lebih mendekat titik letupan terbesar. Saya kira petunjuknya sangat membantu mengingat tidak semua permukaan tanah gembur itu aman untuk dipijak. Kalo tidak hati-hati kaki kita bisa terjerembab dalam kubangan lumpur belerang itu. 

Tampaknya bapak itu sudah memulai aksinya. Sambil menuntun langkah kami mendekat, dia berakting sebagai pemandu wisata sekaligus story teller. Dia menjelaskan secara rinci bagaimana fenomena alam itu terjadi dan berlangsung hingga sekarang walau secara ilmiah masih banyak kejanggalan. Yang membuat kami berhenti sejenak sambil menggaruk-garuk kepala adalah mitos folktale yang disampaikan bahwa letupan paling besar itu dulu tempat keluarnya putra Aji Saka yang berbentuk ular naga dari pantai selatan. Yah, sekedar hiburan bolehlah didengarkan dengan seksama ceritanya. 

Menariknya lagi, sambil melanjutkan cerita bapak itu seolah menarik langkah kami menuju lapak kecil dengan sedikit barang dagangan. Hanya beberapa plastik garam dan botol yang katanya berisi air belerang. Karena merasa sudah dapat banyak hal dari beliau, kamipun merasa berhutang untuk melarisi dagangannya siang itu. Ternyata harganya sangat murah, satu sack garam ukuran sedang hanya dijual lima ribu dan sama halnya dengan air belerang per botol. 

Menurut teori marketing segitiga PDBnya (Positioning-Differentiation-Brand) Hermawan Kertajaya, penjual garam itu sudah melaksanakan lebih dari setengah dasar teori tersebut. Dia  sudah memiliki identitas khusus di mata calon pembeli sehingga menjadi pembeda dengan pedagang garam lainnya. 

#marketing

Jumat, 09 November 2018

Api 10 November

10 November 1945, pekik merdeka berpadu takbir bergaung di antara rongga-rongga langit Kota Surabaya. Jiwa siapa yang tidak terpanggil melihat kebebasan ada di ujung mata. Ya, kebebasan. Mereka berpikir betapa lelah, sengsara dan nestapanya selama ini ketika kaki-kaki asing itu menginjak-injak bumi pertiwi seenaknya. Mereka telah banyak mengambil harta berharga di penggalan surga nusantara ini. 

Pemuda-pemuda bergerak. Dari segala penjuru arah mata angin. Keluar dari desa-desa sunyi. Turun dari gunung-gunung tinggi. Mereka tutup sementara berjilid-jilid kitab agama, keluar dari tempat mereka mengisi ruhani. Keluar demi tegaknya martabat negara ini. 

Berbekal air wudhu yang menempel di kulit,  semangat di dada dan senjata seadanya kalian yakin bahwa inilah jalan usaha untuk mulia. Mau bersatu dengan siapa saja untuk kebaikan bersama. Saling berebut menjadi yang terdepan. Saling membantu meringankan beban saudara di medan laga. Saling mengisi kekosongan, memacah kebuntuan dan menggandeng kawan sejalan. Saling... Saling.. dan...Saling menjadi pemandangan penuh harap akan adanya kemenangan. 

Seorang pemuda naik ke atas mimbar. Dengan tatapan garang, suara pekik lantang dan telunjuk menjulang mengabarkan perlawanan. Bahwa ini saatnya kemerdekaan harus dipertahankan, anak bangsa harus disatukan, dan tujuan bersama harus didahulukan. Tidak ada kata menyerah untuk sebuah kebenaran dan mereka yakin bahwa Allah ada dipihak yang benar. Sehingga DIA memberi kemerdekaan kepada bangsa yang mau berusaha, berdoa dan bersatu padu. 

Maafkan kami pahlawanku. Abu kalian kami warisi di setiap peringatan tetapi api kalian yang dulu pernah membara, berkobar dan membakar kezaliman belum bisa kami ambil sepenuhnya. Kami masih sibuk dengan ke-aku-an yang bersemayam di dada. Semoga Allah menjadikan kami sebagai bangsa pejuang yang bermartabat dan sejahtera. 

#haripahlawan2018 #smpislamalabidin#fulldayandboardingschool

Rabu, 07 November 2018

E-Voting

Beberapa waktu yang lalu kami bersama Pengurus Osis SMP Islam Al Abidin mengadakan rapat koordinasi untuk merancang beberapa agenda dekat sekolah. Kami memang mendorong partisipasi aktif siswa dalam menyelenggarakan setiap kegiatan sekolah. 

Saat itu, kami beri beberapa tantangan kepada mereka yang salah satunya adalah menyelenggarakan pemilihan ketua osis yang beda dari biasanya. Alhasil, merekapun bergerak, belajar dan menyiapkan kegiatan supaya berlangsung dengan bermakna dan meriah. Kegiatanpun disusun layaknya pemilihan kepala daerah atau presiden. Mereka membuat media kampanye yang dipajang di setiap sudut sekolah, menyosialisasikan calon melalui media sosial (instagram, facebook, web, dll), menggelar uji publik visi dan misi kandidat serta diselenggarakan debat kandidat di roadshow terakhir menjelang pemungutan suara. Yang lebih istimewa adalah mereka menyelenggarakan pemungutan suara dengn media digital atau e-voting. 

Setelah mendata 800 lebih daftar pemilih tetap, mereka membuat undangan kepada pemilih yang merupakan warga sekolah, yaitu guru, karyawan dan siswa, untuk menggunakan hak pilih mereka di tempat dan waktu yang telah ditentukan. Dalam menggunakan haknya, pemilih datang ke TPS kemudian mengisi absensi dan mengantri menuju bilik suara. Dalam masing-masing bilik tersebut, terdapat laptop yang digunakan sebagai sarana pemungutan suara. Sebelum menentukan pilihan, siswa harus login sesuai dengan kode kelas dan nama siswa untuk bisa masuk ke layar yang memuat tiga kandidat ketua osis beserta visi dan misi mereka. Setelah pemilih meng-klik vote pada salah satu kandidat, pilihan tersebut akan otomatis tersimpan dan diolah di komputer server yang dioperasikan oleh siswa panitia. 

Setelah semua pemilih menggunakan hak suaranya, komputer server akan menampilkan perolehan suara masing-masing kandidat. Dan kandidat yang berhak menjadi ketua Osis masa khidmat 2019/2020 mendatang adalah kandidat nomor urut 1, Rokhim Trisnadi.  Putra asli Makasar itu mengungguli dua pesaingnya  Ridho Hadi dan Arkani Fauzan yang masing-masing yang masing-masing berada diurutan kedua dan ketiga. 

Kegiatan ini dimaksudkan sebagai ajang melatih kepemimpinanan siswa dan

wahana belajar berdemokrasi yang baik sebelum mereka nanti benar-benar menjadi pemilih yang cerdas dan bijak untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Selain itu, penggunaan E-voting ini sebagai langkah bijak mengurangi penggunaan kertas dan menarik minat seluruh siswa untuk menggunakan hak pilih mereka. 

Salut kami pada kalian......

Seminar Literasi

Giatkan literasi, SMP Al Abidin kirim 120 siswa mengikuti seminar literasi di UNS

Rabu, 31 Oktober 2018, 120 siswa SMP ISLAM AL ABIDIN SURAKARTA mengikuti Seminar Nasional Budaya Literasi dengan tema Literasi di Era Milenial yang diadakan Himpunan Mahasiswa FKIP UNS dalam rangka Pekan Bahasa dan Sastra 2018. 

Acara ini merupakan puncak di antara serangkaian acara yang telah diadakan sebelumnya seperti lomba baca puisi, lomba musikalisasi puisi dan lomba membuat cerpen. 

Seminar Nasional yang digelar di Auditorium UNS tersebut menghadirkan pembicara nasional terkemuka seperti Tere Liye dan Dwitasari yang merupakan penulis novel kenamaan Indonesia serta pembicara dari Badan Bahasa Provinsi Jawa Tengah. 

Tere liye menekankan kepada peserta yang kebanyakan para milenial itu untuk bergiat dalam literasi. Dengan literasi kita bisa menjadi pemenang dalam kontestasi global sekarang ini. Siswa yang dikirim ke seminar tersebut rata-rata memang penggemar novel-novel karya Tere Liye. Mereka sangat antusias mendengarkan wejangan dari novelis idola mereka sehingga setelah ini mereka bisa termotivasi untuk menulis novel. Artinya, yang selama ini hanya menjadi pembaca dan penikmat novel saja, mereka termotivasi untuk menulis karya-karya literasi sendiri. 

Dalam acara ini juga berlangsung penyerahan hadiah lomba literasi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Dalam sesi itu, salah satu siswa kelas 7 SMP Islam Al Abidin, Latifatun Azzahra, diberi penghargaan juara 2 lomba baca puisi tingkat Jateng dan DIY. 

Di akhir acara, Tere Liye meluangkan waktu untuk memberikan tanda tangan di buku-buka karyanya yang dibawa para peserta seminar dan menyediakan waktu juga untuk berbincang-bincang ringan. 

Keikutsertaan sekolah kami dalam acara ini hanya salah satu ikhtiar untuk menggalakkan budaya literasi peserta didik di sekolah. 

#smpislamalabidin #gerakanliterasi

Indonesia - Palestina

Saat melintasi sepanjang Jalan Asia - Afrika kita dapati beberapa bendera negara-negara peserta Konfrensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 kala itu. Yang menarik di sepanjang jalan itu lebih banyak terpasang bendera negara kita bersanding dengan bendera Palestina. 

Dugaan saya, banyaknya bendera kedua negara itu bukti bahwa sejarah bangsa kita sangat berkomitmen terhadap kemerdekaan negara Palestina. Dia saat itu menjadi satu-satunya negara peserta yang belum merdeka sehingga kemerdekaannya adalah janji bangsa Indonesia sebagaimana dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945.

#indonesiapalestine