Selasa, 28 November 2017

Brad

Ada seorang polisi lalu lintas, sebut saja Brad, setiap pagi dan siang bertugas menyebrangkan rombongan siswa yang berangkat dan pulang belajar di sekolah. Sesekali dia mengajak anak-anak itu ngobrol. Pembicaraan mereka terlihat asyik, menarik dan sepertinya bermakna bagi anak-anak. Beberapa kolega polisi selalu menggoda Brad untuk jadi guru saja, mereka bilang dia sangat cocok bekerja dengan anak-anak dan anak-anakpun juga senang ketika bertemu dengannya. Hari berganti hari selalu dan selalu begitu, sampai pada akhirnya dia rela melepaskan statusnya sebagai seorang opsir polisi.

Dia memulai pekerjaan mengajarnya di sebuah sekolah dasar. Kebetulan di tahun pertamanya, dia diamanahi sebagai guru kelas 5 sampai beberapa tahun. Karena keputusan menjadi guru adalah bagian dari perenungan dan tekadnya yang bulat, tentunya pekerjaan itu dia lakukan dengan sepenuh hati.

Brad sangat dicintai murid-muridnya. Karena mengajarnya dengan sepenuh hati, murid-muridnya pun belajar juga dengan sepenuh hati pula. Mereka berangkat sekolah dengan senang hati, pulang dengan berat hati.Semakin lama menekuni profesi  semakin membuat hatinya melekat pada pendidikan.

Menimbang kebutuhan akan stok guru profesional di kotanya, sebuah universitas ternama memutuskan untuk membuka fakultas pedagogik. Pimpinan universitas  menunjuk Brad sebagai Dekan di fakultas itu karena rekam jejak sebagai guru yang bisa dikatakan paling berhasil di kotanya. Enam tahun berhasil membangun institusi pencetak guru di kotanya, akhirnya Brad memutuskan resign untuk kembali sebagai guru sekolah dasar dimana dulu ia mengawali karir mengajarnya.

Sejak saat itu, Brad kembali ke flat sederhananya dari rumah dinas yang cukup mewah dan tanpa sopir pribadi. Kembali mengawali harinya dengan jalan kaki ke sekolah, sesekali bebarengan dengan anak-anak di jalan sambil bercanda dan berbagi makanan, disambut dengan lambaian tangan, membenarkan tali sepatu dan lipatan baju murid-muridnya dan setiap detik dalam hidupnya membersamai manusia-manusia masa depan, anak-anak. Momen-momen Indah itu tidak akan ditemui dalam pekerjaan selain guru.

Saat ditanya dalam sebuah talkshow, Ia dengan bangga mengatakan, "tidak ada yang lebih Indah dari pada menjadi seorang guru".
.
.
Cerita sederhana yang harus semakin menguatkan kita pada pekerjaan mulia ini.

Arif Hidayat

Jumat, 24 November 2017

Soto Daging Kerbau dan Diplomasi Para Wali

Selain dikenal karena rokok kreteknya, Kudus juga terkenal dengan kuliner khasnya. Bagi yang pernah ke Kudus pasti tidak melewatkan kuliner khas kota wali ini, masakan daging kerbo (red: kerbau). 

Hari ini setelah beberapa tahun tidak singgah di sini, datang pagi saya langsung menuju pusat kuliner nomor. wahid di Kudus, Taman Bojana Pujasera. Di tengah bangunan yang berkios-kios itu, kita bisa menemukan beberapa los kios yang menjual menu istimewa berupa soto dan pindang daging kerbau. Kami langsung singgah dan memesan beberapa mangkok soto di kios Bapak Ramidjan. 

Sekilas tidak ada yang beda dengan soto pada umumnya, tapi racikan menggunakan daging kerbau memang terasa spesial bagi kami.

Mengetahui kami sebagai pendatang, penjual melayani sambil bercerita tentang asal usul kenapa daging kerbau lebih menjadi primadona dibanding dengan daging sapi atau yang lainnya. 

Bak seorang sejarawan, dia bercerita saat salah satu wali sanga, Maulana Ja'far Shadiq a.k.a Sunan Kudus, datang di daerah ini untuk mendakwahkan islam. Melihat kondisi masyarakat yang masih kental dengan mistisisme dan ritual hindu, Sunan Kudus tidak secara vis a vis mempertentangkan agama Islam yang ingin beliau dakwahkan dengan kepercayaan mayoritas masyarakat. Akan tetapi, sang wali menempuh beberapa pendekatan atau diplomasi sehingga ajakan-ajakan beliau bisa diterima secara gradual oleh orang sekitar, sehingga muncul sebuah pendekatan dengan istilah akulturasi kebudayaan pada waktu itu. 

Akulturasi sendiri bermakna mencampurkan dua budaya atau lebih (red. Islam dan Hindu). Dua contoh yang sangat nampak adalah mepertahankan arsitektur hindu dalam pembuatan masjid dan tidak menyembelih sapi sebagai hewan yang dianggap suci menurut kepercayaan masyarakat setempat pada waktu itu. 

Hasil pendekatan dan konsep diplomasi para wali tersebut sangat nampak keberhasilannya. Satu demi satu masyarakat waktu itu masuk Islam dan bahkan sekarang Kudus adalah kota santri dengan penduduk mayoritas muslim. Sehingga, hingga saat ini Masjid Menara Kudus dan masakan daging kerbau begitu ikonik di kota ini.


Rabu, 25 Oktober 2017

Belajar dari Jepang

Rabu, 25 Oktober 2017, sekolah kami kedatangan rombongan dari Jepang. Mereka adalah pengusaha di bidang konstruksi yang sedang merekrut beberapa tenaga ahli Indonesia untuk bekerja di Negaranya. Rombongan yang dipimpin oleh Vice President dari sebuah perusahaan konstruksi tersebut datang ke tempat kami untuk berbagi pengalaman dan inspirasi terutama mengenai ke unggul and keunggulan negaranya.  Siswa-siswa pun antusias bertanya dan sangat senang mendengarkan cerita langsung dari warga Negara Jepang. Dibalik kunjungan itu, kami mengamati dan mencari informasi terhadap tamu-tamu kita tersebut. Disini kami membuat catatan hasil pengatan kami terhadap tamu-tamu Jepang tersebut;
1. Datang 10 menit sebelum waktu yang dijanjikan.
2. Selalu mengucapkan 'terima kasih' (ありがとう)  setiap saat dilayani.
3. Selalu mengawali percakapan dengan kata-kata yang apresiatif atau memuji.
4. Sangat memperhatikan lawan bicara.
5. Posisi duduk sangat sopan, kaki tertangkup dan kedua tangan diletakkan di atas lutut.
6. Bicara simple, tidak bertele-tele, straight to the point.
7. Tidak mau dijamu berlebihan.
8. Datang dan pergi diawali dengan menundukkan bahu.
9. Ketika akan pulang, jendela mobil dibuka dan melambaikan tangan berulang-ulang sampai mobil berjalan menjauh.
10. Ucapan terakhir sebelum pergi, "kami sangat senang di sini, melihat siswa sehat dan bersemangat, kami ingin lagi ke sini suatu saat nanti."
Belajar yang sejati bukan hanya membuka lembar-demi-lembar buku, membaca dan kemudian menghafalkannya. Tapi hari itu, kami secara langsung belajar bagaimana orang-orang Jepang bertutur, bertindak dan berperilaku sehingga Jepang menjadi Negara yang seperti sekarang ini.
🏯🏯🏯🏯🏯🏯🏯🏯🏯

Inilah Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat "Disruption"

Oleh: Rhenald Kasali

Mungkin Anda sempat menerima video tentang Google Pixel Buds. Wireless headphone seharga 159 dollar AS yang akan beredar bulan depan ini, dipercaya berpotensi menghapuskan pekerjaan para penerjemah. Headphone ini mempunyai akses pada Google Assistant yang bisa memberikan terjemahan real time hingga 40 bahasa atas ucapan orang asing yang berada di depan Anda. Teknologi seperti ini mengingatkan saya pada laporan PBB yang dikeluarkan oleh salah satu komisi yang dibentuk PBB – On Financing Global Opportunity – The Learning Generation (Oktober 2016). Dikatakan, dengan pencepatan teknologi seperti saat ini, *hingga tahun 2030, sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan.* Tak mengherankan bila mulai banyak anak-anak yang bertanya polos pada orang tua, “mama, bila aku besar, nanti aku bekerja di mana?”

Otot Diganti Robot
Perlahan-lahan teknologi menggantikan tenaga manusia. Tak apa kalau itu membuat kita menjadi lebih manusiawi. Semisal kuli angkut pelabuhan yang kini diganti crane dan forklift. Tak hanya di pelabuhan, di supermarket pun anak-anak muda beralih dari tukang panggul menjadi penjaga di control room. Itu sebabnya negara perlu melatih ulang SDMnya secara besar-besaran dan menyediakan pekerjaan alternatif seperti pertanian atau jasa-jasa lain yang masih sangat dibutuhkan. Tetapi teknologi tak hanya mengganti otot. Manusia juga menggunakan teknologi untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya.

Di sini kita sudah melihat robot dipakai untuk memasuki rumah yang dikuasai teroris dan memadamkan api. Sekarang kita mendengar tenaga-tenaga kerja yang bertugas di pintu tol akan diganti dengan mesin. Pekerjaan di pintu-pintu tol semakin hari memang semakin berbahaya, baik bagi kesehatan (asap karbon kendaraan), keamanan maupun kenyamanan (tak dilengkapi toilet).
Sehingga, memindahkan mereka ke control room atau pekerjaan lain tentu lebih manusiawi.

Tetapi, teknologi juga menggantikan jarak sehingga pusat-pusat belanja yang ramai dan macet tiba-tiba sepi karena konsumen memilih belanja dari genggaman tangannya dan barangnya datang sendiri.
Maka sejak itu kita menyaksikan pekerjaan2 yang eksis 20 tahun lalu pun perlahan-lahan akan pudar. Setelah petugas pengantar pos, diramalkan penerjemah dan pustakawan akan menyusul.

Bahkan diramalkan *profesi dosen pun akan hilang*, karena kampus akan berubah menjadi semacam EO yang mengorganisir kuliah dari ilmuwan-ilmuwan kelas dunia.
*Kasir di supermarket, sopir taksi, loper koran, agen-agen asuransi, dan sejumlah besar akuntan juga diramalkan akan berkurang*. Kita tentu perlu berpikir ulang pekerjaan2 yang kita tekuni hari ini.

Pekerjaan-pekerjaan Baru
Sebulan yang lalu, di Cambridge – UK, saya menerima kunjungan dari mentee-mentee saya yang sedang melanjutkan study S2. Salah satunya, Icha yang sedang duduk di program S2 bidang perfilman.
Saya pun menggali apa saja yang ia pelajari dan  rencana-rencana ke depan yang bisa dijembatani yayasan yang saya pimpin. Icha bercerita tentang ilmu yang didapatnya. "Kami disiapkan untuk hidup mandiri,” ujarnya. "Masa depan industri perfilman bukan lagi seperti yang kita kenal. Semua orang kini bisa membuat film tanpa produser dan middleman seperti yang kita kenal. Kami diajarkan menjadi produser indies, tanpa aktor terkenal dengan kamera sederhana, dan pasarkan sendiri via Netflix.

Ucapan Icha sejalan dengan Adam, putera saya yang sedang mengambil studi fotografi di School of Visual Arts, New York. Ia tentu tidak sedang mempersiapkan diri menjadi juru potret seperti yang kita kenal selama ini, melainkan mempersiapkan keahlian baru di era digital yang serba kamera.
Adam bercerita tentang arahan dosennya yang mirip dengan Icha di UK. “Sepuluh tahun pertama, jangan berpikir mendapatkan gaji seperti para pegawai. Hidup mandiri, membangun keahlian dan persiapkan diri untuk 20 tahun ke depan. *Tak mau susah, tak ada masa depan*,” ucapnya menirukan advis para dosen yang rata-rata karyanya banyak bisa kita lihat di berbagai galeri internasional. Adam dilatih hidup mandiri, berjuang sedari dini dari satu galeri ke galeri besar lainnya. Dari satu karya ke karya besar lainnya.

Memang, pekerjaan-pekerjaan lama akan banyak memudar walau tidak hilang sama sekali. Seperti yang saya ceritakan dalam buku baru saya, Disruption, pada pergantian abad 19 ke abad 20, saat mobil menggantikan kereta-kereta kuda. Ribuan peternak dan pekerja yang menunggu pesanan di bengkel-bengkel kereta kuda pun menganggur. Namun pekerjaan-pekerjaan baru seperti montir, pegawai konstruksi jalanan, pengatur lalu lintas, petugas asuransi, dan sebagainya pun tumbuh. Kereta-kereta kuda tentu masih bisa kita lihat hingga hari ini, mulai dari jalan Malioboro di Yogyakarta sampai di kota New York, Paris, atau London melayani turis. Tetap ada, namun tak sebanyak pada eranya.

Namun pada saat ini kitapun menyaksikan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang tak pernah kita kenal 10-20 tahun lalu: Barista, blogger, web developer, apps creator/developer, smart chief listener, smart ketle manager, big data analyst, cyber troops, cyber psichologyst, cyber patrol, forensic cyber crime specialist, smart animator, game developer, smart control room operator, medical sonographer, prosthodontist, crowd funding specialist, social entrepreneur, fashionista and ambassador, BIM Developer, Cloud computing services, cloud service specialist, Dog Whisperer, Drone operator dan sebagainya.
Kita membaca postingan dari para bankir yang mulai beredar, sehubungan dengan tawaran-tawaran untuk pensiun dini bagi sebagian besar karyawannya mulai dari teller, sampai officer kredit. Kelak, bila Blockchain Revolusion seperti yang ditulis ayah-anak Don-Alex Tapscott menjadi kenyataan, maka bukan hanya mesin ATM yang menjadi besi tua, melainkan juga mesin-mesin EDC. Ini tentu akan merambah panjang daftar pekerjaan-pekerjaan lama yang akan hilang.

Jangan Tangisi Masa Lalu
Di beberapa situs kita pasti membaca kelompok yang menangisi hilangnya ribuan atau bahkan jutaan pekerjaan-pekerjaan lama. Ada juga yang menyalahkan pemimpinnya sebagai masalah ekonomi. Tentu juga muncul kelompok-kelompok penekan yang seakan-akan sanggup menjadi “juru selamat” PHK.

Namun perlu disadari gerakan-gerakan itu akan berujung pada kesia-siaan. Kita misalnya menyaksikan sikap yang dibentuk oleh tekanan-tekanan publik seperti itu dari para gubernur yang sangat anti bisnis-bisnis online. Mungkin mereka lupa, dunia online telah menjadi penyedia kesempatan kerja baru yang begitu luas. Larangan ojek online misalnya, bisa mematikan industri kuliner dan olahan rumah tangga yang menggunakan armada go-food dan go-send.

Berapa banyak tukang martabak yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan, rumah makan ayam penyet dan pembuat sabun herbal yang juga diantar melalui gojek. Sama halnya dengan menghambat pembayaran noncash di pintu-pintu tol, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk memberikan pelayanan-pelayanan baru yang lebih manusiawi dan lebih aman.

Satu hal yang pasti, kita harus mulai melatih anak-anak kita menjadi pekerja mandiri menjelajahi profesi-profesi baru. Ketika mesin dibuat menjadi lebih pandai dari manusia, maka pintar saja tidak cukup. *Anak- anak kita perlu dilatih hidup mandiri* dengan mental self-driving, self-power, kreatifitas dan inovasi, serta perilaku baik dalam melayani dan menjaga tutur katanya di dunia maya (yang sekalipun memberi ruang kebebasan dan kepalsuan).

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disruption.

Senin, 14 Agustus 2017

KEKELIRUAN YANG TERABADIKAN

Oleh: KH Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta (alm)

Jamaah haji Indonesia yang pulang ke Tanah Air, bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW.”

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan). Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekah.

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta’addiyah.

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan.

Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha’i, dan alik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali.

Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a’lam.

Sabtu, 06 Mei 2017

Rapor TK

Setiap pulang ke rumah kelahiran selalu saja membawa pulang beberapa kenangan dan pelajaran. Kenangan yang ini nggak tahu buruk, lucu atau apa. Setelah membolak-balik setumpuk berkas, saya dapati sebuah kertas berukuran kuarto kumal merah muda terlipat menjadi beberapa bagian. Melihat dengan seksama sambil sedikit senyum kecut dan geleng-geleng kepala. Itu rapot taman kanak-kanak (tk) saya sekitar 25 tahun yang lalu.

Yang jadi fokus saya adalah nilai yang ditandai dengan huruf K (kurang) dan C (cukup) untuk tiga caturwulan, yaitu kemampuan berbahasa. Yang jadi pertanyaan bukan nilai atau kemampuan saya waktu itu, tapi langsung saya bandingkan dengan test bakat yang pernah saya ikuti. Sekitar 2 tahun yang lalu saya diminta mengikuti test bakat dan potensi melalui 'finger prints' STIFin. Hasilnya, kemampuan bahasa dan sosial saya dinilai paling menonjol oleh test tersebut dibanding kemampuan yang lain. 

Intinya, kita kadang mendapati anak-anak kita tidak bisa meraih sesuatu yang orang tua inginkan. Karena mungkin memang belum waktunya atau bukan menjadi 'passion'nya untuk diraih saat itu. Tapi karena hidup ini dinamis dan tidak selalu harus linier, maka sabar dan telaten mencari potensi anak sejak kecil itu perlu tanpa harus membanding-bandingkan dengan anak seusianya.

(Nasihat untuk diri sendiri yang sedang membesarkan dua anak laki-laki)

Selasa, 02 Mei 2017

Keluarga

Apa seharusnya spanduk-spanduk peringatan Hardiknas dipasang di depan rumah-rumah setiap warga Indonesia? bukan hanya di depan lembaga pendidikan formal (sekolah) saja.
Apa seharusnya yang diundang untuk mengikuti upacara Hardiknas bukan hanya kepala sekolah atau guru sekolah saja? tapi juga setiap lelaki kepala keluarga dan al ummu madrasatul ula.

Kenapa?
Keluarga adalah institusi pendidikan 'paling sakral' di dunia. Untuk mendirikannya harus ada perjanjian agung atau mitsaqan ghalidza antar umat manusia.

Dari sanalah anak mengenal kata, dari mulut kedua orangtua mereka mengumpulkan glossary.
Dari sanalah anak mengenal perilaku, dari tindak-tanduk kedua orangtua mereka merekam referensi.
Dari sanalah, mereka mengenal nilai, dari komitmen yang dibangun dan dilaksanakan bersama.

Dari situlah anak-anak kita tumbuh dengan keteladanan, perlakuan, kebiasaan dan ujaran-ujaran.

#selamathardiknas
#refleksidiri