Selasa, 27 Februari 2018

Oglangan

Oglangan (red: listrik padam) merupakan berkah tersendiri bagi anak-anak di kampungku dulu. Minimal kami bebas sebentar dari aktivitas rutin yang dinamakan belajar dan mengaji. Dengan alasan mati lampu, cahaya teplok redup sehingga kami berkesimpulan bahwa belajar dalam kondisi seperti itu bisa merusak mata. Saat itulah anak-anak dengan otomatis berhamburan keluar bak burung keluar dari kurungannya, lari-lari dan teriak-teriak nggak karuan. Beberapa hanya sekedar duduk bercengkrama di halaman rumah sambil membicarakan apa saja, yang lainnya memilih melakukan permainan fisik, salah satunya cik-cik bencik (hide and seek).

Bagi sebagian orang, mati lampu merupakan musibah karena pasti akan menggangu aktivitas dan pekerjaan rutin mereka. Tapi bagi sebagian yang lain bisa menjadi sarana muhasabah betapa nikmatnya cahaya. Kalo sudah dalam kegelapan begini, sebagus pakaian yang kita kenakan tak begitu istimewa, wajah-wajah yang rupawan juga tak jelas oleh mata, bisa jadi orang-orang menjadi saling mencurigai satu sama lain.

Nikmat cahaya yang dikaruniakan tidak hanya untuk mata kita, tapi juga hati kita. Bayangkan bila hati kita tetutup dari cahaya, pasti kerusakan, kebencian dan permusuhan akan semakin meraja lela. 

Maka, setiap kejadian sebaiknya jangan buru-buru diratapi, atau bahkan dikutuki. Jadilah seperti pepatah Inggris ini, it's better for us to light a candle than to curse the darkness (lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpati kegelapan). Setiap kejadian, baik atau buruk, pasti mengandung ibrah yang bisa kita petik.


Inspirasi dari Timor

Kali ini kami harus belajar banyak pada remaja ini, namanya Rizky Ipolito Warudai. Dia jauh-jauh terbang dari Negara Timor Leste melintasi batas negara menuju Kota Solo untuk belajar.

Kali ini Rizky menceritakan keluarga besarnya di Timor Leste. Dia sangat terinspirasi dengan perjuangan kakek, Ibu dan bapaknya sebelum mereka menjadi orang yang berkecukupan. Kakeknya yang seorang tentara sangat tegas dalam membesarkan anak-anaknya. Selain itu juga mengajarkan ketangguhan dalam menghadapi hidup yang keras pada waktu itu. Oleh karena itu, dia mengakui bahwa keuletan dan ketangguhan orang tuanya adalah hasil didikan kakeknya sampai berhasil dalam membangun dan membesarkan bisnis mereka.

Dia dilahirkan dalam keadaan ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Nama Rizky sendiri katanya diambil dari ungkapan syukur bapaknya kepada Allah karena mendapatkan gaji pertama saat kelahiran buah hati mereka. Rizky kecil menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya jatuh bangun membangun ekonomi keluarga, dari mencari pekerjaan, berjualan bakso dan usaha-usaha yang lain.

Hasil tidak akan berkhianat pada proses, kerja keras itu berbuah manis. Orang tuanya berangsur-angsur menapaki tangga kesuksesan sampai saat ini. Kini orang tuanya adalah pengusaha yang sukses di bidang infrastruktur komunikasi dan perjalanan. Dan bapaknya adalah pemilik salah satu klub sepak bola liga utama di Negaranya.

Dia berharap bisa mengikut jejak kakek dan kedua orangtuanya menjadi sosok yang mandiri, tangguh, pekerja keras dan visioner.

FYI, Rizky sendiri tidak tahu bahwa negaranya dulu adalah bagian dari Indonesia walaupun jarak antara referendum dengan tahun kelahirannya tidak berpaut jauh.

#mentoringleadership
#smpialabidin



Kamis, 04 Januari 2018

Tentang Sri Ningsih



Tidak ada kosa kata penderitaan dalam kamus seorang Sri Ningsih. Meskipun sejak lahir dia didekap erat oleh berbagai macam penderitaan. Seolah,  tidak layak dia mengumpati dunia hanya karena skenario hidupnya yang dianggap kelam. Dia tetap tegar, positif dan berusaha menyebar benih-benih manfaat kepada orang-orang di sekitarnya.

Lahir di pulau kecil di tenggara Sumbawa, Pulau Bungin, membuat hidupnya tidak mudah. Dilahirkan dari rahim seorang istri pelaut membuat dia tumbuh menjadi wanita yang harus kuat dan tahan banting. Suara tangisnya ketika menyapa dunia disahut suara tangis kerabat yang datang dalam resepsi kelahiran. Ibu Sri Ningsih meninggal saat melahirkannya. Saat itulah episode demi episode kemalangan dan penderitaan dimulai. Mulai dari Ayahnya meninggal ditelan gelombang, kemudian hidup bersama ibu tiri yang kejam sampai akhirnya dikirim oleh Tuan Guru Bajang ke pondok pesantren di Surakarta.

Di Surakarta dia sempat mengalami anti klimaks penderitaan karena bertemu Pak Kiai dan Bu Nyai yang baik hati, teman yang selalu mengerti, dan suasana pesantren yang menentramkan hati. Sampai saat hari tragis itu terjadi, di tahun 60an, sejarah pilu bangsa ini ikut dialami Sri bersama orang-orang di pesantren itu. Adik tirinya dikabarkan meninggal dalam kejadian tersebut.

Haru biru petualangan Sri Ningsih tidak berhenti di situ. Di ibu kota negara dia datang. Alih-alih membuang kegetiran hidup sebelumnya, Sri mengalami ups and downs yang cukup ekstrim selama di Jakarta. Sudah teruji dengan kusulitan dan keterbatasan membuatnya dengan mudah melewati dan menaklukkan kota metropolitan itu. Usahanya dengan cepat melesat. Dari kaki lima, rental mobil sampai mempunyai sebuah perusahaan berskala nasional. Sampai tiba saatnya dia mengambil keputusan yang cukup misterius. Dia pergi begitu saja meninggalkan aset besar perusahaannya.

London adalah kota tujuan berikutnya. Tampaknya Sri Ningsih ingin memulai dari nol. Pencarian pekerjaan yang panjang di the capital of the world itu akhirnya melabuhkannya sebagai sopir bus double decker di Kota London. Sampai dia bertemu dengan sahabat, rekan, dan bahkan keluarga baru yang sangat mencintainya. Pada akhirnya selalu begitu, julukan ibu tiri untuknya, si anak terkutuk, selalu membayangi dan mewarnai hidupnya.

Badai itu selalu saja berlalu, Sri bisa melupakan setiap kegetiran yang dialaminya. Dia memilih membuang memori kelamnya dengan pergi jauh. Dia meninggalkan London dengan segala kenanganya menuju ke Paris. Di kota ini Sri tutup usia dengan meninggalkan cerita yang membanggakan bagi para penghuni panti jompo yang pernah dihuninya sebelum meninggal. Dan di kota Menara Eiffel inilah dia menutup buku hidupnya tanpa catatan pilu.





Sabtu, 16 Desember 2017

Golden Age


Seusia dia adalah golden agenya anak-anak untuk mengasah kemampuan afektif dan psikomotorik. keduanya adalah proses panjang yang harus dibiasakan dan dimulai sejak sekarang. Kebijakan pemerintah menghimbau pendidikan pra-sekolah untuk tidak mengajarkan calistung sebenarnya sudah tepat. Tapi memang kultur masyarakat kita yang masih menganggap anak yang bisa calistung semakin dini dianggap anak yang cerdas, begitupun sebaliknya. 

Pun juga di beberapa sekolah dasar, supremasi ilmu pengetahuan hanya disandarkan pada pelajaran matematika dan sains, belum optimal pada bidang lain yang bisa mengolah rasa dan karsa peserta didik seperti Seni dan ketrampilan. Anak yang lebih pandai matematika dinilai akan lebih berhasil dari pada yang tidak. Meskipun, matematika sangat penting, mungkin porsi dengan bidang lain bisa diseimbangkan.

Padahal, untuk mengahadapi persaingan global siswa harus diajarkan dan dibiasakan dengan twenty first century skills yang beberapa di antaranya adalah kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, berpikir kritis dan kreatif.

Semoga kita bisa memenuhi hak anak untuk beraktualisasi. Memberikan ruang berkembang terhadap otak, otot dan hati mereka sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Sehingga kematangan tidak hanya diukur dari otak yang cerdas tapi juga skill yang mumpuni, jiwa yang kuat, kecapakan sosial yang baik dan kreatifitas yang tinggi.


Rabu, 06 Desember 2017

Goes to Singapore - Malaysia (Part 3/end)

Lagi-lagi aktivitas kami beberapa hari itu harus berakhir hingga larut malam. Setelah menikmati megahnya menara kembar Petronas, kami segera bergegas menuju tempat bermalam, Hotel Soleil Kuala Lumpur. Keesokan harinya setelah sarapan, Kapten Aboy sudah bersiap membuka bagasi dan menata koper kami ke dalam bagasi.

Sekolah Menengah Kebangsaan Victoria

Tujuan pertama kami hari ini ke Sekolah Menengah Victoria, sekolah kluster unggulan berasrama di Kuala Lumpur. Sekolah ini disebut sebagai sekolah tertua di Malaysia yang didirikan sekitar tahun 1829 oleh Pemerintah Kolonial Inggris. Terlihat bangunan dengan arsitektur kuno khas Eropa dengan menampilkan menara jam di gerbang pintu masuk sekolah tersebut sudah seperti yang kita duga usianya. Para almuni sekolah ini tersebar di seluruh tanah melayu sebagai orang-orang besar, termasuk Raja Brunai Darussalam saat ini, Sultan Hasah Bolkiah.

Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh seorang wanita paruh baya penjaga sekolah. Tidak jauh di sebelahnya berdiri seorang perempuan yang merupakan salah satu cikgu (guru) yang bernama Ms.Syahrinah. Beliau ditugaskan Cikgu Besar (Kepala Sekolah) sekolah tersebut untuk menyambut dan memberikan informasi tentang keadaan dan pengelolaan sekolah victoria ini kepada kami.

Tentu rasa penasaran kami terhadap pengelolaan pendidikan unggul di Malaysia akan bisa terjawab. Kami memberondong Ms. Syahrinah dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem kebijakan pendidikan, penjaminan mutu guru, jenjang karier guru, metode pembelajaran, peran orang tua, serta masalah dan program kesiswaan.

Pintu masuk ruang utama sekolah

Kurikulum

Beliau menjelaskan, cikgu besar (kepala sekolah) mempunyai supreme policy untuk menentukan mau dibawa kemana tujuan pendidikan di sekolah ini dengan tetap berpedoman pada standar yang sudah digariskan oleh Kerajaan Malaysia. Dalam menyusun kurikulum, kegiatan kesiswaan maupun bahan ajar yang dipakai, cik gu besar menggunakan sistem bottom up dengan mengajak seluruh warga sekolah memberi masukan terkait dengan desain pendidikan yang diterapkan di sekolah.


Penjaminan Mutu Guru

Secara kepangkatan, Guru di Malaysia mempunyai jenjang karir yang lebih menjanjikan dibanding pegawai pemerintah di sektor lain. Untuk menjadi guru, mereka sudah terseleksi di tingkat universiti. Kemudian setelah resmi berprofesi di sekolah formal, kompetensi mereka terus dikontrol dan ditingkatkan. Untuk menunjang itu, pemerintah maupun sekolah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti kursus-kursus untuk memenuhi kompetensi standar sesuai dengan bidang ajar yang mereka ambil. Setelah selesai kursus, indikator peningkatan setiap guru ditentukan oleh beberapa indeks yang diisi oleh siswa, guru lain atau kepala sekolah sebagai sepervisor mereka. Kegiatan peningkatan kompetensi guru dilakukan baik secara formal atau non-formal, di dalam atau di luar kelas, terbimbing atau mandiri.

Metode Pembelajaran

Sekolah memberikan kewenangan kepada guru untuk menyelenggarakan pembelajaran dengan metode, media maupun pendekatan yang mereka desain. Akan tetapi, sekolah victoria ini memberi pagu pada pembelajaran berbasis digital, media interaktif, maupun active learning. Di sini, keberadaan laboratorium komputer tidak hanya untuk pembelajaran TIK saja tapi semua subjek harus dikemas dengan teknologi informasi dan komunikasi. Karena mereka tahu bahwa anak-anak yang mereka didik bukan generasi analog tapi generasi digital. Sejak mereka lahir sudah tercipta, mengenal dan menggunakan teknologi digital hingga saat ini sehingga guru-guru berkeyakinan bahwa menyelenggarakan kelas berbasis digital akan membuat murid lebih senang, mudah mengakses, dan efektif.

Keasramaan

Sebagai sekolah kluster kebangsaan, Sekolah Victoria termasuk sekolah unggulan di Malaysia. Konsep sekolah berasrama mereka terapkan sebagai proses pendidikan yang holistik atau menyeluruh. Kurikulum Asrama menekankan pada pendalaman dan pembiasaan soft skill seperti berkomunikasi, kerjasama, kolaborasi, kemandirian, dll serta pengembangan bakat dan minat dalam hal seni, olah raga, keagamaan, dll. Kegaiatan asrama dilakukan di luar jam sekolah dengan tetap terbimbing dan terkontrol oleh guru yang bertugas di sana.

Masalah Kesiswaan

Walaupun siswa yang masuk di sekolah ini sudah terseleksi secara ketat, pastinya masih juga bermunculan masalah-masalah siswa. Siswa yang bermasalah biasanya dihandel oleh counsellors, atau di Indonesia disebut guru BK. sebetulnya rasio perbandingan keadaan guru BK dengan jumlah siswa lebih baik di Indonesia. Standar di Indonesia, 150 siswa dibimbing oleh seorang guru BK. Dan di sekolah ini, 3 counsellors harus membimbing 900an siswa lebih.
Selain dibina oleh counsellor, siswa bermasalah juga akan dibina homeroom teacher (wali kelas). Prosedur yang paling akhir atau disesuaikan dengan tingkatan masalah adalah dipanggil orang tua siswa yang bersangkutan, kalau perlu dikembalikan atau dikeluarkan dari sekolah.

Output

Kompetensi lulusan Sekolah Victoria salah satunya adalah mampu menembus perguruan tinggi favorit di dalam maupun luar negeri. Setiap alumni mempunyai kemampuan berkomunikasi dalam bahasa inggris, kepribadian yang baik dan skill abad 21 yaitu kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, problem solving, kreatifitas, dan IT literacy.
Bersama Cikgu Syahrinah
Persiapan Pulang

Sekolah Menengah Victoria adalah tujuan terakhir kami dalam kunjungan di Singapura dan Malaysia. Sebelum menuju ke Bandara Internasional Kuala Lumpur, sejenak kami bertandang ke rumah coklat Harriston di pusat kota untuk membeli buah tangan dan menghabiskan sisa-sisa pecahan Ringgit.

Butik Coklat Harriston Kuala Lumpur


Pukul 10.30 waktu Malaysia kami sudah tiba di bandara. Alhamdulillah, walaupun jadwal penerbangan sedikit delay kami tiba di tanah air dengan selamat.

Perjalanan ini membuat kami belajar. Setiap sudut tempat yang kami kunjungi mengajarkan banyak hal. Di sepanjang perjalanan kami melihat ke segala penjuru sambil mulut ini bergumam; entah membandingkan, entah mengagumi atau bahkan menyusun action plan of what to do next in our workplace. Semoga berkah dan manfaat.



Senin, 04 Desember 2017

Pelajaran dari Negeri Jiran (Bahagian 2)

Betapa besar niat kedua negara ini (Malaysia dan Singapura) membuat benteng perbatasan antar negara yang sangat ketat, canggih dan megah. Mungkin karena alasan keamanan negara maupun martabat bangsa di mata dunia. Paspor kami dicap di checkpoint Kantor Imigrasi, itu berarti hak kunjung kami sudah berakhir di Singapura.

Situasi cukup menegangkan karena setiap petugas memasang gestur sangar, dingin dan setiap kita berhenti menunggu rekan mereka langsung mendatangi dan mengusir kami. Tampak orang-orang berjalan cepat, berlari kecil bahkan berlari cepat sebelum masuk atau setelah keluar kantor imigrasi tersebut. Hampir tidak ada seorangpun berjalan dengan santai, sambil ngobrol apalagi membeli minuman atau makanan. Suasana serupa juga hampir kami rasakan di checkpoint imigrasi Malaysia.

Di hari berikutnya, tepatnya tanggal 1 Desember 2017 dini hari, kami tiba di hotel yang berada di tengah kota Negara Johor, Malaysia. Walau singkat, istirahat kami lumayan bisa menghimpun lagi tenaga yang sempat terkuras oleh jadwal padat di Singapura. Kali ini kami sudah tidak lagi bersama Mr. Ayub yang menemani kami selama di Singapura. Sebagai gantinya, kami disambut seorang pemandu dari Malaysia, Cik Layla, yang akan mendampingi kami selama 2 hari kedepan di sini.

Tepat pukul 8 pagi kami langsung bertolak ke Negara Selangor via darat. Sebelumnya, Kami membayangkan perjalan ke Selangor menggunakan bus pasti sangat melelahkan dan membosankan karena harus menempuh jarak hampir 300 km via tol yang menghubungkan setiap negara bagian. Prasangka kami salah, tol yang kami lalui sangat lancar dan baik sehingga bus bisa berjalan dengan cepat tanpa ada hambatan. Sepanjang kanan dan kiri jalan tol tersebut, mata kami dimanjakan dengan hamparan hijau perkebunan kelapa sawit yang sangat luas sembari berhenti di rest area setiap 2 jam perjalanan.

Di depan Sekolah Menengah Kebangsaan Victoria

Sekilas tentang Sistem Pendidikan Malaysia

Yang berbeda dari perjalanan panjang ini adalah kami mendapatkan banyak informasi tentang pendidikan Malaysia dari Cik Layla yang nota bene dia juga praktisi pendidikan di negaranya. Sebelum bicara banyak tentang pendidikan, Cik Layla, memberikan introduction kepada kami tentang negara Malaysia; mulai dari sistem pemerintahan, keanekaragaman budaya, nasionalisme, tatanan masyarakat sampai pasang surut dunia pendidikan di negaranya.

Dunia pendidikan di Malaysia juga selalu dinamis seperti halnya di Indonesia. Perubahan kurikulum dan kebijakan tambal sulam juga beberapa kali dilakukan. Hal itu tentu saja untuk menjawab kebutuhan masa depan akan daya saing global karena malaysia juga termasuk negara yang menjadi pasar utama dalam perdagangan bebas; CAFTA, AFTA, MEA,  dll.

Jenjang pendidikan di Malaysia tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Hanya waktu tahun pelajaran di sana disesuaikan dengan berawal dan berakhirnya tahun masehi. Mereka memulai tahun pelajaran  baru di awal Bulan Januari dan mengakhirinya di pertengahan Bulan Oktober. Bulan November - Desember adalah waktu cuti sekolah. Selain diisi dengan liburan, kebanyakan sekolah di sana menyelenggarakan semacam summer camp seperti halnya sekolah-sekolah di negara barat untuk mendekatkan anak-anak dengan dunia nyata dan melatih soft skill mereka.

Jenjang pendidikan  prasekolah atau tadika menekankan pada penanaman karakter dan kecakapan hidup. Anak-anak TK di sana sama sekali tidak diajarkan materi calistung, karena hal itu bisa mempersempit ruang perkembangan afektif dan motorik siswa yang mulai tumbuh.

Sekita usia 7 - 12 tahun, anak-anak di Malaysia wajib mengikuti pedidikan sekolah rendah (red: SD) selama 6 tahun. Di jenjang ini mata pelajaran berhitung dan membaca mulai diperkenalkan. kemudian pelajaran sejarah, Bahasa Melayu dan Inggris adalah mapel wajib yang harus dipelajari oleh setiap siswa, disamping beberapa pelajaran seperti sains, matematika, bahasa mandarin dll. Kerajaan Malaysia saat ini sangat concerned dalam perbaikan nilai kerohanian dan karakter siswa. Maka dalam Ujian Penilaian Sekolah Rendah (UPSR) atau kalau di Indonesia UN, diujikan materi kerohanian selain materi-materi wajib lainnya.

Sekolah menengah di Malaysia terbagi dua; Sekolah menengah rendah (SMP) selama 3 tahun dan sekolah menengah tinggi (SMA) selama 2 tahun. Setelah selesai 2 tahun di SMA siswa boleh mengambil program pra-universiti atau vokasional. Di program pra-universiti, siswa harus mengikuti pelatihan bahasa inggris dan harus lulus ujian Tesol. Bagi yang vokasional akan mendapatkan materi keahlian untuk mendapatkan gelar diploma. Gelar tersebut sudah cukup untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian mereka.

Bagi yang melanjutkan pengajian tinggi (PT), pemerintah menyediakan banyak beasiswa dan loan (pinjaman) pendidikan tinggi dan bisa dicicil ketika sudah mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Setelah lulus mereka mendapat Bachelor Degree, tahap berikutnya Master Degree dan Philosophy Doctor (Ph.D) untuk jenjang yang paling tinggi.

Perbedaan yang paling prinsip dengan di Indonesia adalah masa SMA di sana ditempuh selama 2 tahun dan 1 satu tahun setelahnya adalah program persiapan masuk universitas atau program keahlian (vokasional).

Tidak terasa sepanjang perjalanan kami melalui tol tersebut sepertinya sudah mulai dekat dengan tujuan. Terlihat satu dua bangunan mulai muncul di tengah-tengah perkebunan sawit di sepanjang jalan. Gedung-gedung pencakar langit sudah menengok dari kejauhan. Dan itulah akhir dari perjalanan 5 jam dari Johor ke Selangor.

Nasionalism

At a glance, pemandangan Selangor tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Tidak seperti di Singapura yang sangat jarang kita temui sepeda motor atau mobil tua berseliweran di jalan raya. Di sana kami temui motor dan mobil keluaran tahun 90an masih banyak dipakai. Perkampungan sederhana di pinggiran kota, hunian sempit di bantaran sungai, rumah petak khas melayu, bahkan beberapa kios yang sedikit memakan badan jalan mebuat kami tidak banyak membedakannya dengan Indonesia. Sepanjang perjalanan di Negara Selangor, mata kami melihat keluar dari balik jendela bus. Beberapa hal yang membaut kami berdecak kagum adalah mobil nasional Malaysia, Proton, dengan berbagai tipe tampak lebih dominan daripada mobil-mobil impor lainnya. Bahkan, bendera Malaysia banyak terpasang di serambi-serambi rumah dan pertokoan meskipun bukan bulan kemerdekaan.

Cik Layla menambahkan, Malaysia punya motto yang berbunyai Satu Malaysia yang mengobarkan semangat Malaysia menjadi satu kesatuan yang utuh dan visioner meskipun di sana terdapat banyak raja-raja kecil di masing-masing daerah. Semua sudah pada porsinya masing-masing dan masyarakat tahu bagaimana menempatkan raja-raja dan perdana menteri mereka sesuai dengan semestinya.

Untuk memperkuat rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan, di sana banyak lagu-lagu patriotik yang harus dinyanyikan oleh setiap siswa dan warga Malaysia apapun ras mereka. Lagu patriotik tersebut terus digubah dan diaransemen ulang sesuai dengan perkembangan jenis musik seperti Pop Melayu, Dangdut, bahkan Rock sesuai dengan selera anak-anak muda.

Batu Cave
Tibalah kami di destinasi berikutnya yaitu Batu Cave, sebuah tebing kapur yang merupakan pusat peribadatan umat Hindu di sana. Di depan kuil berdiri sebuah patung besar berwarna emas, Dewa Murugan, yang katanya sebagai patung terbesar di dunia. Untuk masuk ke dalam kuil-kuil gua kita harus menapaki ribuan anak tangga. Tapi kami tidak banyak memakan waktu di tempat ini, kami hanya sightseeing dari kejauhan sambil mengabadikan persinggahan ini.

Menuju Genting Highlands
Waktu Malaysia sudah menunjukkan pukul 16.00, tapi matahari masih terasa menyengat. Selanjutnya adalah perjalan menuju destinasi yang kami tunggu-tunggu, Genting Highlands yang berlokasi di perbatasan Negara bagian Selangor dengan Pahang. Untuk mencapainya kami harus siap dengan perjalanan berkelok-kelok menyusuri pegunungan Titiwangsa hingga sampai kepuncaknya dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Benak kami mulai bertanya-tanya melihat gedung-gedung tinggi nan megah yang dibangun di pegunangan dengan ketinggian seperti itu, seberapa lama membangunnya dan habis dana berapa.
Tidak halnya seperti di puncak gunung, di sana kami merasakan suasana seperti di tengah kota, hanya bedanya udaranya sangat dingin di sini. Bagunan megah dengan sarana yang canggih memanjakan perjalanan kami kali ini, pemandangan hampir sama kami rasakan di bandara Changi, Singapura.
Sebelum naik Skyway kita harus beli tiket terlebih dahulu
Resort yang dibangun oleh Lim Goh Tong, mulai tahun 1960 menyediakan beberapa fasilitas kelas dunia seperti First World Hotel yang menjadi hotel ke-2 terbesar di dunia, beberapa fasilitas entertainment, bahkan di bagian paling atas terdapat satu-satunya kasino yang legal di Malaysia.
Untuk menghubungkan resort satu dengan yang lainnya, disedikan fasilitas Skyway atau gondola yang merupakan tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara. Dari titik start kami dibawa ke wahana hiburan, belanja dan kuliner dengan menggunakan skyway tersebut pulang dan pergi.
Kepulangan kami dari genting highway dibersami dengan cuaca yang cukup berkabut. Walupun demikian perjalanan tetap lancar karena luasnya jalan dan penerangan yang baik disepanjang kelokan.
Skyway atau Gondola

Dengan latar belakang Pagoda

Tiba di KL
Pemandangan megapolitan sudah mulai menghiasi cakrawala kami di depan, samping kanan dan kiri. Bus memutari bibir kota sebelum masuk ke Ibu Kota Negara Malaysia, Kuala Lumpur. Setelah makan malam kami langsung menuju sebuah landmark yang menjadi ikon kota KL sekaligus Malaysia, Menara Kembar Petronas. Kata Cik Layla, konon dua menara kembar ini dibangun dengan menggunakan jasa pengembang yang berbeda untuk setiap towernya. Sengaja mendatangkan kontraktor dari dua negara yang sudah sangat masyhur di asia dalam hal konstruksi, Jepang dan Korea untuk membandingkan performa diantara keduanya. Setelah berjalan beberapa saat, setiap jasa tersebut menunjukkan performa yang berbeda. Jepang membuat progress yang lebih cepat dan Korea lebih lambat. Akantetapi tampaknya perspektif lain yang membuat pemodal lebih cenderung menilai hasil kerja korea lebih baik, yaitu cara instalasi lift di kedua bangunan tersebut. Kombinasi di antara keduanya adalah kerja cepat dan cerdas untuk menghasilkan maha karya yang sangat ikonik dan membuat setiap orang ingin mengabadikan kenangan bersamanya di Malaysia.
Setelah puas dengan beragam pose berfoto-foto bersama si kembar, kami putuskan untuk mengakhiri perjalan kami hari ini dan bergegas menuju hotel karena waktu sudah berada di ujung pertengahan malam.

Petronas Twin-Towers


Bersambung ke part 3.....

Selasa, 28 November 2017

Brad

Ada seorang polisi lalu lintas, sebut saja Brad, setiap pagi dan siang bertugas menyebrangkan rombongan siswa yang berangkat dan pulang belajar di sekolah. Sesekali dia mengajak anak-anak itu ngobrol. Pembicaraan mereka terlihat asyik, menarik dan sepertinya bermakna bagi anak-anak. Beberapa kolega polisi selalu menggoda Brad untuk jadi guru saja, mereka bilang dia sangat cocok bekerja dengan anak-anak dan anak-anakpun juga senang ketika bertemu dengannya. Hari berganti hari selalu dan selalu begitu, sampai pada akhirnya dia rela melepaskan statusnya sebagai seorang opsir polisi.

Dia memulai pekerjaan mengajarnya di sebuah sekolah dasar. Kebetulan di tahun pertamanya, dia diamanahi sebagai guru kelas 5 sampai beberapa tahun. Karena keputusan menjadi guru adalah bagian dari perenungan dan tekadnya yang bulat, tentunya pekerjaan itu dia lakukan dengan sepenuh hati.

Brad sangat dicintai murid-muridnya. Karena mengajarnya dengan sepenuh hati, murid-muridnya pun belajar juga dengan sepenuh hati pula. Mereka berangkat sekolah dengan senang hati, pulang dengan berat hati.Semakin lama menekuni profesi  semakin membuat hatinya melekat pada pendidikan.

Menimbang kebutuhan akan stok guru profesional di kotanya, sebuah universitas ternama memutuskan untuk membuka fakultas pedagogik. Pimpinan universitas  menunjuk Brad sebagai Dekan di fakultas itu karena rekam jejak sebagai guru yang bisa dikatakan paling berhasil di kotanya. Enam tahun berhasil membangun institusi pencetak guru di kotanya, akhirnya Brad memutuskan resign untuk kembali sebagai guru sekolah dasar dimana dulu ia mengawali karir mengajarnya.

Sejak saat itu, Brad kembali ke flat sederhananya dari rumah dinas yang cukup mewah dan tanpa sopir pribadi. Kembali mengawali harinya dengan jalan kaki ke sekolah, sesekali bebarengan dengan anak-anak di jalan sambil bercanda dan berbagi makanan, disambut dengan lambaian tangan, membenarkan tali sepatu dan lipatan baju murid-muridnya dan setiap detik dalam hidupnya membersamai manusia-manusia masa depan, anak-anak. Momen-momen Indah itu tidak akan ditemui dalam pekerjaan selain guru.

Saat ditanya dalam sebuah talkshow, Ia dengan bangga mengatakan, "tidak ada yang lebih Indah dari pada menjadi seorang guru".
.
.
Cerita sederhana yang harus semakin menguatkan kita pada pekerjaan mulia ini.

Arif Hidayat